Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

74 Hektare Lahan Sawah di Kulon Progo Tergusur Proyek, Dinas Berupaya Optimalkan Program Cetak Lahan Pertanian

Anom Bagaskoro • Sabtu, 3 Februari 2024 | 02:03 WIB
EXIT: Petani membawa jerami diatas kepala usai melakukan panen di sawah Area Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo.
EXIT: Petani membawa jerami diatas kepala usai melakukan panen di sawah Area Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo.

KULON PROGO - Alih fungsi lahan pertanian menjadi masalah baru di Kulon Progo. Adanya pembangunan besar-besaran membuat tergusurnya lahan produksi pangan.

Tentunya  hal ini akan sangat berdampak pada ketahanan pangan regional di Kabupaten Kulon Progo.


"Tujuh puluh empat hektare lahan sawah tergusur, terdampak proyek milik pemerintah yang segera dibangun," ucap Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo Drajad Pubadi, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Jumat (2/2).


Drajad mengungkapkan proyek pemerintah terpaksa menggusur lahan pertanian. Seperti proyek Tol Jogja Solo, di mana exit tol di Kapanewon Sentolo, Pengasih, dan Temon cukup banyak merubah lahan sawah di Kulon Progo.


Proyek perluasan Stadion Cangkring juga menggusur persawahan yang berada di sisi utara dan timur stadion.

Tak hanya itu, proyek perluasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banyuroto, Kapanewon Nanggulan juga memakan daerah persawahan di sekitar TPA.


Drajad menjelaskan bahwa Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo mengatasi pengurangan area sawah dengan mengimbanginya melalui penambahan.

Program penambahan area sawah dilakukan dengan Program Cetak Lahan Pertanian.


Setiap tahun pihaknya selalu mengagendakan program tersebut. Pada tahun 2023 lalu, program cetak lahan pertanian berhasil mencetak 25 hektare sawah baru di Kapanewon Sentolo dan Pengasih.


Dalam program cetak lahan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo memfasilitasi pembuatan detail engineering design (DED), studi kelayakan, dan pembukaan lahan pertanian.

Hal itu diupayakan agar lahan pertanian bisa optimal dalam pengelolaannya.

 

Menurut Drajad, lahan yang berpotensi untuk masuk program cetak lahan memiliki kriteria tersendiri. Pertama, lahan harus dekat dengan sumber air atau irigasi yang ideal.

Kedua, lahan yang idel harus berupa kebun dan tisak ada bangunan diatasnya. Ketiga, dari masyarakat menginginkan adanya sawah.

"Kembali ke masyarakat, jika masyarakat mengijinkan lahan miliknya dijadikan sawah, tentunya itu mendukung program kami," ucap Drajad.


Ia juga mengungkapkan bahwa dari tahun 2015 hingga tahun 2023, pihak Dinas Pertanian dan Pangan telah mencetak 350 hektare sawah dalam program cetak lahan pertanian.

Drajad menjelaskan tindakan cetak lahan dari tahun ke tahun tak hanya untuk menambah lahan, namun juga mengantisipasi alih fungsi lahan di masa depan.

"Program cetak lahan belum mampu mengimbangi laju alih fungsi lahan," ucap Drajad.


Kendati jumlah cetak lahan terus digenjot, Drajad mengungkapkan bahwa programnya belum mampu mengimbangi arus alih fungsi lahan.

Beberapa proyek non pemerintah juga menyumbang tergusurnya lahan sawah.


"Tentunya berpengaruh pada luas lahan sawah, namun kami punya mekanisme agar produktivitas tanaman pangan tetap tersedia," tuturnya.

Drajad mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki mekanisme peningkatan produktivitas panen, walaupun lahan sawah banyak berkurang.

Mekanisme tersebut menitikberatkan pada pemupukan, pengendalian hama, rekomendasi benih varietas unggul, dan pemberdayaan kelompok tani.

"Kedepannya kami akan terus melakukan program cetak lahan," ucap Drajad. (cr7)

Editor : Amin Surachmad
#produksi pangan #Alih Fungsi #Kulon Progo #lahan pertanian #Dinas Pertanian dan Pangan