RADAR JOGJA – Pada pelaksanaan ibadah haji tahun ini, para jemaah calon haji diharuskan melakukan rekam biometrik sebelum berangkat ke Arab Saudi. Rekam biometrik sebenarnya tidak diwajibkan. “Namun dengan adanya biometrik akan mempermudah jemaah keluar-masuk bandara di Arab Saudi,’’ ujar Staf Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kemenag Kulon Progo Kholistin Arifiyani di sela pendampingan calon haji di Kantor Kementerian Agama Kulon Progo, kemarin (23/1).
Kantor Kemenag Kulon Progo sudah melakukan pendataan biometrik sejak Desember 2023. Jemaah calon haji sebenarnya diperbolehkan melakukan rekam biometrik mandiri. Namun, karena sebagian besar mengalami kesulitan dalam perekaman, Kemenag Kulon Progo melakukan pendampingan."Terkadang mereka mengalami kendala untuk mengakses aplikasi," tambahnya.
Rekam biometrik meliputi pemindaian paspor, wajah, dan 10 jari. Jemaah pertama akan melakukan pemindaian paspor yang sudah terbit. Dilanjutkan dengan pemindaian wajah dan 10 jari. Tiga tahapan ini dilakukan dengan smartphone dan aplikasi yang dikeluarkan pihak Arab Saudi.
Setelah jamaah haji selesai melakukan pemindaian otomatis datanya akan terekam. Sedangkan untuk jamaah yang belum melakukan rekam biometrik datanya akan terkonfirmasi pada sistem Ministry of Foreign Affairs (MoFA), akan terdeteksi saat proses Fill Mofa Form.
Selain itu, kendala terkait pemindaian sidik jari dan wajah. Terkadang beberapa jamaah mengalami kesulitan pemindaian wajah dan sidik jari. Pihaknya memberikan alternatif agar jamaah ke RSUD Wates untuk meminta surat pengganti rekam sidik jari, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa internasional.
Kendala ini sangat berpengaruh dalam mempercepat proses rekam biometrik. Mengingat kuota haji asal Kulon Progo sebanyak 311 jemaah, dan 95 kuota cadangan.
Kendati terkendala dengan alat, Kepala Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kementerian Agama Kulon Progo Mulyono menjelaskan, pihaknya tetap melakukan pendampingan.
Salah satu jemaah calon haji yang melakukan rekam biometric adalah Akhmad Kasiran. Warga Kalurahan Karangwuni ini merasa terbantu dengan adanya pendampingan."Tadi sekitar 15 menit dalam rekam biometrik," ucapnya. (cr7/din)
Editor : Satria Pradika