RADAR JOGJA - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menginstruksikan perusahaan tambang yang biasa melewati jalan Banyumeneng Kidul - Banyuroto, Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo melakukan penyiraman secara berkala. Itu untuk mengurangi dampak debu efek rusaknya jalan yang hingga saat ini mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SDN 2 Wonorejo.
Hal itu terkuak dalam audiensi tertutup yang dilakukan DLH Kulon Progo di Ruang Rapat Staf Ahli Bupati Kompleks Pemkab Kulon Progo, Kamis (14/9). Peserta audiensi di antaranya perwakilan SDN 2 Wonorejo, lurah Banyuroto, panewu Nanggulan, PT Rahadi Suar Sinergi selaku perusahaan tambang yang beroperasi di Banyuroto dan perwakilan dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulon Progo."Solusi jangka pendek para pihak pemakai jalan perusahaan crasher atau proyek di Banyuroto dan yang lewat jalan itu bergotong royong menyiram jalan sampai musim hujan tiba," ucap Kepala DLH Kulon Progo Sumarsana.
Menurutnya, tanggung jawab penyiraman jalan ini juga berlaku bagi pelaksana TPA Banyuroto. Mengingat jalur pengiriman sampah menuju TPA melintasi jalan Banyumeneng Kidul - Banyuroto. Permasalahan ini harus diselesaikan bersama. "Penyiraman ini solusi jangka pendek agar KBM di SDN 2 Wonorejo, Kelompok Bermain Citra Bangsa serta aktivitas warga di sekitar jalan tidak terganggu paparan debu," ujarnya.
Sementara solusi jangka panjang bisa dilakukan dengan perbaikan jalan oleh DPUPKP Kulon Progo. Solusi jangka panjang ini jadi kewenangan DPUPKP untuk memikirkan jalannya.
Guru SDN 2 Wonorejo Bardal Dersonolo menyebut audiensi ini belum menemui kesepakatan soal kapan jalan Banyumeneng Kidul - Banyuroto diperbaiki. Menurutnya, pemerintah minta agar perbaikan dilakukan oleh perusahaan tambang, tapi perusahaan tambang tidak bisa menyanggupinya. Pihak tambang keberatan karena biaya perbaikan besar di kisaran Rp 400 Juta, pakai beton apalagi bisa miliaran. “Nah untuk perbaikan oleh pemerintah juga masih baru diajukan 2024 atau 2025," ungkapnya.
Dijelaskan, masih akan dilakukan audiensi lanjutan dengan Bupati Kulon Progo untuk memastikan kapan perbaikan bisa dilakukan. Kesimpulannya adalah dari semua pihak belum ada titik terang. Hanya justru dari sekolah harus audiensi ke bupati untuk segera menindaklanjuti diadakan perbaikan jalan itu," jelasnya.
Tokoh masyarakat Banyuroto Bambang berharap audiensi ini bisa benar-benar menghasilkan efek nyata bagi warga terdampak jalan rusak di Banyuroto. Diharapkan perbaikan jalan dapat dilakukan sesegera mungkin karena imbas kerusakan telah mengganggu aktivitas warga. "Audiensi ini harus ada tindak lanjutnya, ada kegiatan nyata. Sebab jalan rusak ini betul-betul mengganggu aktivitas masyarakat, apalagi ini jadi akses perekonomian dan pendidikan," harapnya. (tom/din)