Hal itu disampaikan Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Dr Yudi Sastro disela Gebyar Perbenihan Tanaman Pangan Ke-VIII Tahun 2023 di Jogja Agro Park (JAP) di Kemiri, Kalurahan Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo, Senin (29/5).
"Kegiatan ini sebetulnya kegiatan reguler tahunan yang sempat terhenti tiga tahun berturut-turut karena pandemi Covid-19. Kegiatan ke-VIII ini bertujuan sebagai ajang sosialisasi, diseminasi, inovasi teknologi perbenihan tanaman pangan sekaligus sebagai forum atau media bertemunya semua insan perbenihan," ucap Yudi.
Dijelaskan, tidak hanya display varietas unggul yang dihasilkan lembaga atau unit kerja dari kementerian saja, kegiatan ini juga dihadiri dari perguruan tinggi, swasta baik sebagai licensor atau produsen benih murni, masyarakat pemerhati. "Di sini bisa sharing keilmuan, berbagi pengalaman untuk kemajuan perbenihan tanaman pangan," jelasnya.
Menurutnya, output kegiatan ini yakni konklusi atau kesimpulan hal-hal yang perlu dilakukan atau strategi menjawab isu-isu strategis. Ketika kementerian pertanian memasang target penggunaan benih bermutu bersertifikat 80 % di tahun 2024, hal itu jelas tidak mungkin dilakukan sendiri, tetap butuh stakeholder terkait lainnya dan melakukannya bersama-sama.
"Contoh lain kecukupan benih nasional misalnya, pemerintah juga tidak punya kemampuan jika sendiri. Mitra kerja dari perusahan, produsen sebagai pelaku yang menghilirkan benih unggul juga wajib ikut, berikut OPD di daerah," ujarnya.
Ditambahkan, tidak hanya menyempitnya lahan pertanian yang harus dijawab dengan inovasi teknologi pertanian. Anomali iklim seperti menghadapi el nino (musim kering yang lebih kering) juga butuh teknologi pertanian, varietas unggul yang toleran dengan pertanian minim air. "Jadi di sini pemerintah bertemu bahu membahu bersama produsen dan dunia usaha terkait perbenihan merumuskan yang terbaik untuk pertanian di Indonesia," ucapnya.
Manajer Operasional PT Semangat Bersama Entrepreneurship (SBE) Bapak Muslim menambahkan, petani Indonesia memang harus meningkatkan kedaulatan pangan mulai dari benih. Sebab dari benih yang bermutu dan berkualitas produktivitas ditentukan. "Kami dibawah naungan M-Tani Group dengan pendekatan pertanian berkelanjutan, fokus memproduksi benih, pupuk serta program kemitraan yang dikerjakan di seluruh Indonesia," ungkapnya.
Saat ini pihaknya juga tengah mengerjakan program kemitraan produksi benih di Jawa Timur (Pasuruhan), Lampung dan Jawa Barat (Subang dan Karawang). Ada juga kemitraan produksi gabah low emission dan zero emisi untuk pertanian jangka panjang, secara global mulai dari Indonesia menekan emisi karbon. "Kami memproduksi berbagai jenis benih, untuk padi ada varietas M70D dan M410, Jagung Hibrida (CH36), Sorgum Varietas Super 01, kami juga punya produk pupuk ramah lingkungan bentuk cair dan remah," ucapnya.
Ditambahkan, padi M70D merupakan varietas sangat genjah, hanya 75 hari- 85 hari panen. Dengan menggunakan varietas genjah, indek pertanaman bisa ditingkatkan, yang biasanya hanya tiga kali bisa menjadi empat kali. "Ini jawaban, saat lahan sawah semakin berkurang, jumlah penanamannya yang harus dipikirkan, varietas harus dicarikan yang unggul," katanya.
Menurutnya, melalui event ini produk benih unggul bisa dikenalkan kepada petani sebagai pelaku pertanian di lapangan, sehingga mereka bisa menginput informasi baru terkait varietas unggul yang baru dengan produktivitas yang baik. "Secara tidak langsung membantu petani untuk dekat dengan teknologi pertanian berkelanjutan yang bisa diterapkan dalam meningkatkan produktivitas pertanian mereka, antusiasnya sangat baik," ujarnya. (*/tom/ila) Editor : Editor News