"Kami mencoba mengenalkan jamu tradisional untuk melestarikan minuman warisan nenek moyang," jelas Kepala SMAN 1 Sentolo Didik Asmiarto, Minggu (21/5).
Didik menjelaskan anak-anak muda saat ini hanya mengenal jamu tradisional. Namun mereka tidak tahu bagaimana cara membuatnya. Termasuk mengenal apa bahan baku yang digunakan kadang juga kurang paham.
"Padahal khasiat sangat bagus untuk kesehatan dan proses pembuatan juga tidak terlalu sulit. Lebih penting lagi, jamu ini merupakan minuman tradisional warisan leluhur atau nenek moyang kita," katanya.
Menurutnya, jamu tradisional kini kalah pamor dengan minuman kekinian. Terutama yang konsepnya langsung siap minum. Padahal bahan pembuatan jamu banyak tersedia di alam sekitar.
Proses pembuatannya juga mudah. Ditambah lagi memiliki khasiat untuk kesehatan. Belum lagi memiliki nilai ekonomi.
"Jamu tradisional juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bahkan bisa dikemas kekinian agar menarik bagi konsumen khususnya anak muda," ujarnya.
Perajin jamu Murtinah mengatakan, jamu tradisional menggunakan bahan dari tumbuh-tumbuhan. Jamu juga memiliki berkhasiat untuk kesehatan dan diracik sesuai takaran. "Jamu ini bisa memberikan khasiat yang baik bagi kesehatan tubuh," katanya.
Jamu tradisional, lanjutnya, menggunakan berbagai bahan rempah. Seperti kunyit, cabai, temulawak dan berbagai bahan lain. Tanaman ini sangat mudah dibudidayakan dan banyak ditemukan di kebun.
"Rempah-rempah mudah ditanam dan memiliki khasiat," ujarnya.
Salah satu siswa, Rohman mengaku kenal dengan jamu tradisional. Namun dia tidak pernah tahu bahan yang digunakan dan proses pembuatan.
"Tahunya jamu itu sudah jadi dan siap minum. Kalau bahan atau cara pembuatan tidak tahu apalagi ada khasiatnya," kata siswa kelas XI ini. (tom/dwi)
Editor : Editor News