"Belum ada tanda-tanda perbaikan. Padahal, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP-ESDM) DIJ sudah melakukan peninjauan 26 September lalu," keluh Lurah Karangwuni, Anwar Musadad, kemarin (9/11).
Menurutnya, percepatan perbaikan jembatan sangat perlu dilakukan. Melihat urgensi Jembatan Glagah telah menimbulkan efek domino bagi masyarakat. Tidak hanya akses lalu lintas yang terganggu, roda ekonomi masyarakat juga terdampak. "Terlebih jembatan ini merupakan penghubung Karangwuni (Wates) dan Glagah (Temon) yang juga dilalui kendaraan luar daerah karena Jembatan Glagah berada di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) atau Jalan Daendels," ujarnya.
Dijelaskan, ketika Jembatan Glagah tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, truk dan mobil jarang melintas. Padahal banyak masyarakat yang membuka usaha di sepanjang ruas jalan JJLS, perdagangan dan sektor jasa sudah mengeluhkan omzet turun. "Jembatan Glagah harus segera dinormalkan. Sebab saat ini hanya bisa dilewati kendaraan roda dua, kendaraan bertonase berat dari arah barat sudah dialihkan ke jalur utama," jelasnya.
Ditambahkan, untuk akses warga Karangwuni dan Glagah, kini hanya mengandalkan jembatan Sogan, akses kendaraan roda empat harus memutar lewat Jembatan Sogan, termasuk kendaraan bertonase berat dari arah timur juga dialihkan ke utara melalui jembatan Sogan, pun sebaliknya dari arah barat yang ingin masuk ke JJLS juga harus melintas jembatan Sogan. "Risikonya, jika perbaikan Jembatan Glagah terlalu lama, Jembatan Sogan dikhawatirkan (Jembatan Sogan) ikut rusak. Jika jembatan Sogan rusak, masyarakat Karangwuni tidak lagi memiliki akses untuk ke arah utara langsung," ungkapnya.
Seperti diketahui, berdasarkan letak geografis, Kalurahan Karangwuni berada di sisi selatan dekat dengan Samudera Hindia, sisi barat ada Sungai Serang. Ketika ada bencana, hanya ada dua akses jalan keluar yakni Jembatan Glagah dan Sogan. Jika kedua jembatan rusak, masyarakat harus lewat timur yakni jembatan kecil di Bojong dan Garongan di Kapanewon Panjatan dengan jarak yang lumayan jauh. "Bagaimana mitigasi bencananya. Garongan dan Panjatan jaraknya sekitar 15 kilometer. Itu baru sampai Bendungan (Wates) setelah itu baru bisa ke utara. Sangat tidak efektif," imbuhnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kulonprogo Triyono menanggapi, Pemkab Kulonprogo sudah melakukan komunikasi dengan instansi yang bertanggung jawab dalam hal ini Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) terhadap permasalahan tersebut. "Perbaikan Jembatan Glagah tidak serta merta bisa langsung dilakukan, karena ada mekanisme anggaran," ucapnya. (tom/din) Editor : Editor Content