Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pertahankan Warisan Roti Kolmbeng

Editor Content • Kamis, 3 November 2022 | 15:00 WIB
BERTAHAN: Rumah produksi Roti Kolmbeng milik keluarga Giman, 80, warga Pedukuhan Diran, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulonprogo, kemarin.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)
BERTAHAN: Rumah produksi Roti Kolmbeng milik keluarga Giman, 80, warga Pedukuhan Diran, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulonprogo, kemarin.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Roti menjadi makanan istimewa pada zaman penjajahan Belanda yang hanya bisa dinikmati kaum bangsawan. Salah satunya roti kolmbeng yang kini sudah semakin jarang ditemui di pasar. Makanan ini masih bertahan diproduksi keluarga Giman, 80, warga Pedukuhan Diran, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulonprogo.

"Kolombeng itu berasal dari kata kolo mben (zaman dahulu, red),” jelas Giman, kemarin (2/11). Tidak tahu persis siapa yang memberi nama itu. Namun sudah diproduksi sejak tahun 1962 silam. “Saya bisa membuat roti ini karena dulu pernah orang membuat roti ini di Pakualaman. Kemudian saya membuat sendiri di rumah," katanya.

Dijelaskan, bahan baku pembuatan roti ini antara lain tepung tapioka, gula dan telur ayam. Semua bahan dicampur menjadi adonan dengan sedikit tambahan terigu dan soda. Adonan dicetak diatas cetakan besi kemudian dipanggang di dalam oven yang terbuat dari tanah liat.

Oven gerabah itu dipanggang diatas tungku dengan bara arang kayu, kemudian di atasnya juga diletakkan wadah dari gerabah yang juga berisi bara dari arang kayu. Proses pemanasan dari dua sisi ini menjadikan roti mengembang sempurna dengan waktu yang tidak terlalu lama. "Ya masaknya masih dengan cara tradisional, kami gunakan arang dan bahan-bahan dari gerabah," jelasnya.

Ditambahkan, untuk memproduksi 600 - 500 biji roti kolmbeng, dibutuhkan bahan baku sebanyak 7 kilogram tepung, 7 kilogram telur dan 5 kilogram gula. Roti juga bisa bertahan hingga sepekan dan tidak mudah menjamur. "Roti ini justru banyak dipasarkan di Bantul (Imogiri). Pembeli lokal biasanya datang langsung ke rumah produksi," ucapnya.

Dituturkan, di zamannya, roti kolmbeng identik dengan hidangan hajatan pernikahan, kelahiran maupun kematian. Paling sering digunakan untuk acara kematian, baik itu kenduri atau sesaji. Roti ini dulu juga lebih dikenal dengan rotinya orang mati. "Saat bulan Ruwah (Sya'ban) permintaan di Solo bisa mencapai 7.000 roti per hari. Sebab tradisi Ruwahan di sana masih ada," tuturnya.

Menurutnya, meskipun kalah bersaing dengan roti-roti zaman sekarang. Ia tetap akan terus memproduksi roti kolmbeng ini. Roti ini masih banyak diminati lansia yang kangen dengan cita rasa roti yang tidak pernah berubah ini. Ia tidak sendiri, ada dua orang karyawan yang setia membantunya dalam proses produksi kolmbeng.

"Jika dihitung keuntungan, Rp 40 ribu - Rp 50 ribu dalam satu kali adonan. Karena bahan baku naik, harganya yang awalnya hanya Rp 800 per biji kini naik menjadi Rp 1.000 per biji. Naik sebelum Lebaran sekitar bulan Mei 2022 lalu," ujarnya.

Puji Purwanto menambahkan, roti kolmbeng dipasarkan setiap hari saat pasaran, selain di Imogiri juga sebagian dipasarkan di Beringharjo. Harga kadang naik ketika ruwah dan lebaran, "Ruwah biasanya untuk nyadran, kalau lebaran biasanya untuk oleh-oleh perantau ketika pulang kampung," ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kulonprogo Agung Kurniawan mengungkapkan, roti legendaris ini menjadi salah satu industri rumahan yang masih konsisten ditekuni masyarakat Sidorejo. "Konsistensi para perajin kue kolmbeng ini laik diapresiasi. Puluhan tahun mereka tetap melestarikan kolmbeng yang kini menjadi ikon makanan khas daerah setempat. Tercatat sudah turun hingga tiga generasi," ungkapnya. (tom/bah) Editor : Editor Content
#roti Kolmbeng #Kulonprogo