Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fablab UGM di Punukan Jadi Bengkel Ide

Editor Content • Rabu, 1 Juni 2022 | 18:46 WIB
POTENSIAL: Salah satu aktivitas di sudut gedung Fab Lab UGM di Punukan, Kapanewon Wates, Kulonprogo.(HENDRI UTOMO / RADAR JOGJA)
POTENSIAL: Salah satu aktivitas di sudut gedung Fab Lab UGM di Punukan, Kapanewon Wates, Kulonprogo.(HENDRI UTOMO / RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Fabrication Laboratory (Fab Lab), Universitas Gadjah Mada (UGM) di Punukan, Kapanewon Wates, Kabupaten Kulonprogo mulai aktif menampung ide kreatif dari masyarakat Kulonprogo (Bengkel Ide).  Fab Lab tersebut digunakan untuk mengembangkan potensi lokal Kulonprogo.

Wakil Rektor UGM Djagal Wiseso Marseno mengatakan, sesuai tujuan awal, Fab Lab UGM ini mendapat dukungan penuh dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Tergabung dalam Technical Cooperation Project pihaknya akan membersamai warga Kulonprogo untuk inovasi terbuka. Tema kali ini yakni Jogja Open Innovation for Community Enhancement (JOICE). "Dengan Fab Lab ini, masyarakat Kulonprogo diharapkan bisa mencari solusi teknis atas permasalahan yang ada terkait pengembangan ide, kami sediakan tempat untuk menggarap inovasi berbasis potensi lokal Kulonprogo," ucapnya, Selasa (31/5).

Dijelaskan, Fab Lab ini akan menemukan fungsinya ketika risiko investasi awal dengan kemungkinan berkembangnya pengusaha kecil dan menengah melalui prototipe yang lebih mudah. Fase awal, pihaknya menyebut sebagai masa inisiasi, Fab Lab akan fokus pada pengembangan prototipe pengolahan kakao, wood pellet dan pengolahan susu kambing. "Sementara kami fokuskan pada tiga tema utama yakni pertanian, peternakan dan kehutanan. Sebab kami sadar sebagian besar wilayah dan masyarakat Kulonprogo menggantungkan hidup pada ketiga sektor tersebut," jelasnya.

Kepala Bappeda Kulonprogo Triyono berharap, keberadaan Fab Lab UGM di Punukan ini dapat membangkitkan perekonomian masyarakat Kulonprogo. Semua permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan secara efektif dan efisien. "Sarana ini juga bisa menarik perhatian generasi muda untuk mencintai kembali pertanian. Saat ini bertani tidak harus panas-panas dan kotor-kotor di sawah, tetapi bisa memaksimalkan teknologi.Bahkan sambil rebahan di rumah memantau dari internet sudah bisa," selorohnya.

Ditambahkan, hasil produk Fablap juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. mereka bisa datang ke demplot-demplot dan belajar langsung tentang banyak hal, khususnya pengembangan agriculture. Kehadiran sekolah vokasi ini juga digadang bisa menangkap pesan atau ide masyarakat dalam berinovasi. "Fasilitas ini bisa untuk mengembangkan sektor pertanian, sehingga Kulonprogo bisa bersaing. Terkait pariwisata, keberadaan sekolah vokasi ini juga bisa mendukung sektor pariwisata di Kulonprogo," katanya.

Dekan Sekolah Vokasi UGM  Dr Ing Ir Agus Maryono menambahkan, Fab Lab ini akan mengkolaborasikan bisnis, industri dan pemerintahan menjadi satu elemen dalam rangka meningkatkan kapasitas. Konvergensi dari semua elemen dibutuhkan untuk menuju smart agriculture pertanian yang didukung dengan teknologi untuk meningkatkan produktivitas seperti di Israel dan Palestina dan Tiongkok. "JICA Jepang juga telah memberikan bantuan lunak, sejumlah fasilitas yang digunakan sudah mulai bekerja, tetapi juga beberapa alat yang belum datang, intinya semua akan disesuaikan dengan potensi di Kulonprogo,’’ jelasnya.

Menurutnya, untuk melakukan riset saat ini sudah tidak jamannya berpikir sesuai dengan yang disukai. Melainkan harus menyesuaikan empat point dan salah satunya yakni agenda pemerintah, diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan apa yang bisa dikerjakan akademisi di perguruan tinggi. "Semua produk riset juga harus bisa di hilirisasi dan dikomersilkan, sehingga ada geliat ekonomi yang dirasakan masyarakat secara luas," ujarnya.

Ditambahkan, sekolah vokasi memang ditugasi untuk hilirisasi produk, terapan sekaligus merubah ke bisnisnya. Ada delapan departemen yang dilibatkan, sedikitnya ada 80 pengabdian untuk masyarakat Kulonprogo dan akan segera dilaunching di Fab Lab. "Teknologi dan ide baru akan diskusikan disini, setelah dikaji dan direset akan diimplementasikan masing-masing ke 10 desa demplot, sehingga akan ada delapan paket inovasi baru yang akan dilahirkan dalam fase pertama," ucapnya.

Departemen juga akan diisi mahasiswa S2 terapan, terlebih mereka yang memang asli Kulonprogo, sehingga ketika mereka membuat tesis tidak hanya tesis keilmuan, tetapi juga ilmu terapan. "Untuk wisata dalam jangka dekat sebetulnya bisa, wisata edukasi di demplot, spot penelitian juga akan menjadi wahana yang luar biasa menarik untuk wisatawan. Akan ada desiminasi antara kebutuhan masyarakat Kulonprogo dan apa yang bisa dilakukan UGM di Kulonprogo ini," katanya.

Ketua Kelompok Tani Sido Dadi Ngatimin mengungkapkan, keberadaan Fablab  mendapat respon yang baik dari para petani. Mereka berharap permasalahan yang ada di lapangan bisa mendapatkan solusi. "Dulu bila saya ada masalah di ladang, saya bingung mau kemana. Tapi sekarang saya tahu saya bisa mencari solusi di Fablab ini," ungkapnya. (tom/din) Editor : Editor Content
#Fabrication Laboratory UGM #UGM #Kulonprogo