"Kalau dulu masuk puasa tetap ramai. Mereka yang ngabuburit atau menyempatkan diri berbuka di sini, baik keluarga atau kantoran untuk buka bersama cukup padat. Tapi puasa tahun ini kurang, ada tetapi satu dua saja," ucap pemilik Warung Seafood Yu Gun di utara laguna Pantai Glagah, Gunarti Miharyati. Dijelaskan, indikator penurunan pengunjung bahkan sudah terlihat sebelum memasuki bulan puasa. Artinya bukan dipicu pembatasan akibat pandemi Covid-19, namun daya beli masyarakat yang berdampak terhadap turunnya minat mereka untuk bepergian dan berlibur sudah terjadi sejak tahun pertama pandemi. "Tahun pertama kalau pengunjung turun mungkin karena pembatasan yang ketat, tetapi tahun kedua ini kemungkinan daya beli masyarakatnya yang mulai turun. Entah nanti jelang Lebaran" jelasnya.
Menurutnya, daya beli itu berkait erat dengan beban ekonomi masyarakat yang dewasa ini semakin sulit. Sebagai pemilik warung kuliner (Sea food), ia juga sudah melakukan berbagai upaya untuk tetap bisa bertahan. Harga makanan yang ditawarkan di Pantai Glagah rata rata sama, relatif murah, tetapi tetap saja turun konsumennya. Pandemi memang berdampak cukup luar biasa. "Saya sendiri merasakannya, sebagai pelaku usaha juga sama, tidak ada pembeli, harus membuat terobosan apa lagi. Sulit juga, semisal harga diturunkan namun apa-apa mahal, minyak goreng mahal," ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulonprogo Joko Mursito mengungkapkan, program Sambanggo tahun 2022 akan menyasar 10 destinasi wisata, sama seperti tahun sebelumnya (2021). Pihaknya ingin memantik sektor wisata di daerah sebagai pengungkit kegiatan ekonomi. "Harapannya ketika pariwisata berjalan, maka sektor lainnya seperti perdagangan, perindustrian, dan UMKM bisa mengikutinya. Muaranya masyarakat bisa berdaya dan mampu mampu meningkatkan perekonomian lokal," katanya. (tom/din) Editor : Editor Content