Menurut dia, TBC dan stunting masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Jika dibandingkan dengan balita gizi normal maka balita dengan gizi buruk dan berkategori stunting berisiko lebih tinggi menderita sakit TB. Demikian juga dengan balita yang menderita TB, dengan masalah gizi yang kronik dan kekebalan yang rentan, potensi stuntingnya juga besar.
"Balita merupakan kelompok risiko tinggi terinfensi dan sakit TB. Risiko ini semakin meningkat pada mereka yang kontak erat dengan pasien TBC paru terkonfirmasi bakteriologis,” jelas Hasto saat skrining TBC untuk anak stunting di Puskemas Pengasih II Kulonprogo, Sabtu (26/3).
Hasto yang juga Ketua Tim Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting Nasional mengungkapkan jumlah kasus 824.000 dan kematian 93.000 setiap tahunnya. Dengan ini Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan Tiongkok dalam jumlah penderita TBC. Data Global TB Report 2021 ini menjadi alarm, karena setiap jamnya ada 11 kematian akibat TBC di Indonesia.
"Balita di Kulonprogo yang mengalami stunting sekitar 12 persen. Jika setahun itu di Kulonprogo lahir sekitar 25 ribu bayi, sekitar 3 ribu bayi di Kulonprogo masuk kategori stunting. Meskipun, di DIJ kasus stunting di Kulonprogo itu terendah ya," kata Hasto.
Adapun gejala stunting yang dialami oleh balita diantaranya sering batu dan pilek disertai demam. Selain itu nafsu makan juga rendah. Rendahnya nafsu makan mengakibatkan tidak naiknya berat badan balita secara signifikan.
Balita yang dilakukan skrining TB hari ini meliputi identifikasi gejala TB. Mulai dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan uji tuberculin dan foto Rontgen dada di mobil Rontgen Zero TB Jogjakarta. Balita yang terdiagnosis sakit TBC langsung dirujuk ke puskemas untuk mendapatkan pengobatan.
"Sedangkan untuk tata laksana stunting, dokter puskemas bisa merujuk ke dokter anak di rumah sakit daerah ,” ujar Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI dr. Rina Triasih.
Perempuan yang juga menjabat Project Leader Zero TB Jogjakarta ini berharap model kolaborasi antara BKKBN, IDAI, Dinas Kesehatan Kulonprogo dan Zero TB Jogjakarta berlanjut. Selain itu juga dikembangkan untuk daerah-daerah lain. Tujuannya agar terjadi penguatan sekaligus pemberdayaan pendamping keluarga cegah stunting.
Zero TB Jogjakarta, lanjutnya, melakukan kegiatan yang inovatif dan komprehensif dengan pendekatan search, treat and prevent. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah melakukan pencarian kasus TBC secara aktif di masyarakat menggunakan mobil Rontgen.
"Visi Zero TB Jogjakarta yang berharap bisa mengeliminasi tuberkulosis di DIJ pada 2030 layak menjadi pemantik di daerah-daerah lain," harapnya. (*/Dwi) Editor : Editor News