Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus DBD Tinggi, 40 Persen Menyerang Anak-Anak

Editor Content • Kamis, 17 Maret 2022 | 16:38 WIB
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kulonprogo Rina Nuryati.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kulonprogo Rina Nuryati.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Kasus demam berdarah (DB) dan demam berdarah dengue (DBD) di Kulonprogo hingga 2022 tergolong masih sangat tinggi. Hingga Maret, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo mencatat ada 294 kasus. 40 persen di antaranya, menyerang anak-anak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kulonprogo Rina Nuryati merinci, ada 219 kasus DBD dan 75 kasus DB selama 2022. Jika dihitung, total anak-anak yang terserang DB dan DBD mencapai 117 anak.

Menurutnyta, mayoritas kasus DB dan DBD di Kulonprogo banyak terjadi di wilayah permukiman perkotaan. Seperti di kapanewon Sentolo, Wates, dan Pengasih. Karena kepadatan penduduk yang tinggi. “Sehingga mempercepat distribusi dan penyebaran nyamuk penyebab penyakit,” kata Rina saat ditemui di kantornya kemarin (16/3).

Dibandingkan tahun sebelumnya, Rina menyebut tingkat keparahan kasus DB dan DBD masuk kategori menurun. Sebab sampai pertengahan Maret ini, dinkes belum mencatat adanya kasus pasien meninggal. Sedangkan tahun lalu, catatan meninggal karena DB dan DBD mencapai enam kasus. “Untuk itu kami meminta masyarakat agar selalu waspada dan lebih meningkatkan upaya pencegahan DB dan DBD seperti 3M Plus,” ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kulonprogo Eko Damayanti menuturkan, temuan kasus DBD terbanyak adan di Kapanewon Wates, Nanggulan, dan Sentolo. Banyaknya kasus, masih dikarenakan permukiman padat penduduk.

Dikatakan Eko, nyamuk aedes aigepty merupakan hewan yang suka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Jarak tempuh nyamuk itu sendiri mencapai 200 meter. Sehingga apabila nyamuk tersebut hidup di pemukiman padat penduduk maka kemungkinan penyebaran penyakit DBD tentu akan semakin tinggi.

Menurutnya, masyarakat harus sadar bahwa tempat tinggalnya merupakan daerah endemik DBD. Sehingga masyarakat di wilayah perkotaan bisa waspada dan lebih giat dalam mencegah penyebaran serta perkembanganbiakan nyamuk aedes aigepty. Seperti dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). “Dengan upaya tersebut tentu penyakit ini bisa ditangani sejak awal,” harapnya. (inu/eno) Editor : Editor Content
#DB #Kulonprogo