Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Reni Kraningtyas mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan cuaca ekstrim masih terus terjadi di Jogjakarta.
Diantaranya karena ada, fluktuasi suhu sangat tajam dan kelembaban udara yang tinggi.
Reni menjelaskan,di sebagian wilayah Jogjakarta memang mengalami kondisi tersebut. Di sebagian wilayah Kota Jogja, Sleman dan Bantul suhu di jam 7 pagi dan 10 pagi bisa berubah sangat tinggi. Yakni ada selisih 4,5 derajat celsius.
Kelembaban udara di suatu wilayah bisa mencapai 700 milibar atau 60 persen. Kondisi tersebut juga mendukung terjadinya pertumbuhan titik beku pada awan Sibi Colomunimbus. Sehingga bisa mengakibatkan hujan es lebih lebat.
"Apabila ada perbedaan suhu melebihi 4 drajat direntang waktu tertentu. dan kelembaban udara tinggi. Kondisi atmosfer di sekelilingnya mendukung untuk terjadinya hujan es," jelasnya, Rabu (17/3).
Reni menambahkan, potensi cuaca buruk seperti itu dimungkinkan akan terus terjadi hingga satu bulan kedepan. Sehingga dia menghimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap berbagai potensi bencana.
Dia melanjutkan dari hasil pantauan tim BMKG, potensi cuaca buruk cenderung akan terjadi di wilayah Kota dan Sleman. Serta sebagian wilayah Bantul.
"Setelahnya, atau diprediksi pada dasarian tiga April hingga dasarian dua Mei. Wilayah Jogjakarta sudah mulai memasuki musim kemarau," tambahnya. (inu/sky) Editor : Editor News