Ketua KWT Melati, Titin Kusnawati mengatakan, dikembangkannya berbagai produk olahan cabai tersebut bermula dari melimpahnya hasil panen para petani lokal di wilayah Temon. Kondisi tersebut, mendorong inovasi supaya cabai tetap diminati konsumen.
Bermodal tekatd dan kreativitas, Titin bersama 20 anggotanya kemudian membuat berbagai produk olahan cabai. Produk andalan KWT tersebut adalah sambal segar kemasan dan abon cabai dengan berbagai varian.
Pada proses pembuatan abon cabai, mula-mula cabai segar dibersihkan terlebih dahulu dan direbus menggunakan air mendidih. Setelahnya, baru masuk proses pengeringan dengan menggunakan mesin atau sinar matahari. Setelah cukup kering, cabai kemudian digiling serta diberikan bahan tambahan sesuai varian rasa. Sementara untuk sambal segar, diproduksi seperti membuat sambal pada umumnya.
Untuk varian sambal segar, lanjut Titin, KWT Melati memproduksi tiga varian andalan. Diantaranya sambal terasi, sambal bawang dan sambal cumi. Lalu abon cabai diproduksi mulai dari varian abon cabai teri, terasi dan original.
"Untuk bahan baku kami selalu gunakan hasil panen para petani di wilayah kami, sampai saat ini kami tidak pernah mengalami kendala karena produksi cabai di Temon cukup melimpah," ujar Titin saat ditemui Radar Jogja, Senin (15/3).
Lebih lanjut, Titin mengatakan bahwa olahan cabai miliknya juga cukup disambut baik oleh konsumen. Produk yang diberi nama Sambal Mak Nyos milik KWT Melati sukes dipasarkan ke berbagai wilayah di Jogjakarta. Bahkan tak jarang pihaknya juga mendapat pesanan dari luar daerah.
Cukup diminatinya produk olahan KWT Melati, sambung Titin, juga tak lepas dari harga jualnya yang terjangkau. Karena diproduksi dengan hasil panen petani lokal, untuk varian abon cabai dihargai mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 18 ribu. Sementara sambal segar berkisar dari Rp18 ribu hingga Rp 23 ribu.
"Olahan cabai produksi kami bisa mejadi alternatif pengganti cabai konvensional yang harganya terkadang bisa sangat tinggi. Selain itu cabai olahan juga bisa lebih awet untuk disimpan," ungkap Titin. (inu/bah)
Editor : Editor Content