Perwakilan petani, Bayu Puspo Putro Pangaribawa mengatakan, banjir telah mengakibatkan 16 hektar lahan pertanian di Desa Glagah dan Kalidengan terendam air, sehingga tanaman banyak yang mati dan gagal panen.
Petani menengarai, terendamnya lahan pertanian ini sebagai dampak proyek pembangunan jalur kereta bandara. Banyak saluran pembuangan air tidak berfungsi normal sehingga banjir melimpas masuk ke areal persawahan.
"Kami sudah bertemu pelaksana proyek, tetapi tidak ada solusi. Terkesan mereka malah akan menyerah," kata Bayu usai audiensi dengan Bupati Sutedjo di rumah dinas Bupati, Rabu (4/11) malam.
Ditegaskan, petani sudah berusaha menyelamatkan tanaman dengan memompa air dari sawah dengan mesin sedot diesel. Namun air sulit hilang sehingga banyak tanaman terendam dan mati. Padahal tanaman melon hampir masuk masa panen.
"Tidak ada yang bisa diselamatkan, tanaman mati dan buah busuk, total kerugian mencapai Rp 6,5 miliar, saat dikomunikasikan dengan pihak rekanan seperti mereka justru takut menyelesaikan," tegasnya.
Menurutnya, sebelum musim penghujan datang dan banjir terjadi, para petani sudah sempat mengingatkan agar gorong-gorong dibangun atau dijaga agar tidak tersumbat material tanah. "Kami tahu pelaksana proyek hanya sub kontraktor, makanya mereka terkesan tidak berani mengambil sikap," ujarnya.
Bupati Kulonprogo, Sutedjo menanggapi, dirinya sempat mendengar informasi, ada yang berkoordinasi dengan PT Calista KSO dan siap bertanggungjawab. Hanya seperti apa nanti besaran ganti rugi diberikan belum ditentukan. "Kami malah belum dengar mereka lempar handuk. Hanya ada perhitungan untuk menghitung kerugian," ucapnya.
Sutedjo berjanji, Pemkab akan membantu dan melindungi warga. Sementara proyek pembangunan tetap harus jalan sebab itu merupakan proyek nasional. "Kami siap membantu fasilitasi agar ada solusi penyelesaian," ungkapnya. (tom/bah)
Editor : Editor Content