Dia menjelaskan, pendapat ini sangat awam. Meskipun demikian arah politik mudah dibaca. Jadi, tidak memerlukan survei atau hal lain untuk memperkuat alasan kenapa karir politik Budi disudahi secara perlahan. "Elektabilitas (Budi Utama) memang kurang kuat. Relasi Budi Utama kuat ke atas, namun kurang mengakar ke bawah," terangnya.
Dengan pertimbangan tersebut, tidak ada alasan bagi internal PDIP untuk mem-perpanjang jabatan mantan ketua DPRD Gunungkidul periode 2010-2014 itu. Sekarang, kata Padmadyana, yang paling diuntungkan adalah posisi Jangkung Sudjarwadi. Sejak menduduki jabatan Sekjen DPC PDIP Gunungkidul jalan menuju GK1 (calon bupati dari PDIP) makin mulus. "Apalagi Jangkung sekarang punya jabatan sekjen. Jangkung sekalipun belum menjabat tetap lebih kuat, karena cukup dikenal. Jangkung dikenal sebagai figur yang punya kepedulian, pemberdayaan," bebernya.
Jika kondisinya demikian, posisi paling aman Budi Utama adalah mendukung Jangkung. Langkah demikian menjadi bukti bahwa Budi sangat menjunjung tinggi amanah partai. Kemudian Budi bisa menjadi staf ahli fraksi PDIP.Lalu bagaimana peluang Budi Utama jika merapat ke parpol lain? Menurut dia, langkah berani demikian harus diperhitungkan masak-masak. Sekali lagi, tokoh politik yang menggantikan posisi Ratno Pintoyo sebagai ketua dewan waktu itu sangat berat. "Tidak cukup hanya memasang spanduk. Harus punya terobosan untuk dikenal dan meraih hati rakyat," ucapnya.
Sementara itu, Budi Utama ketika dihubungi mengaku tidak mempermasalahkan keputusan DPP. Dia mengakui, dalam pengajuan tiga nama dirinya juga masuk dalam daftar nama calon ketua DPC. Dua lainnya adalah Endah Subekti Kuntariningsih dan Suharno. "Ya, sekarang saya hanya anggota," kata Budi.Ditanya apakah masih ada niat maju pilkada? Tokoh yang dikenal memiliki pemikiran luas ini menjawab dengan ngambang. "Jika rakyat menghendaki saya siap. Saya serahkan semua kepada rakyat," ujarnya. (gun/din/ong) Editor : Administrator