Membawa nuansa pesisir pantai ke tengah hiuk-pikuk perkotaan bukan perkara mudah. Namun, bagi Sandi Martoredjo, konsep tersebut justru menjadi kunci keberhasilannya dalam memutar roda bisnis kuliner hingga bertahan hampir enam tahun.
Lewat Warung Pesisir yang terletak di daerah Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Founder Warung Pesisir itu menyajikan sajian ikan bakar khas pesisir dengan atmosfer pasir putih yang kids friendly di tengah area perkotaan Jogja.
Dia ingin memangkas jarak bagi masyarakat maupun wisatawan yang merindukan suasana laut tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pinggir pantai.
Baca Juga: PSIM Kalah Lagi, Ratusan Suporter Geruduk Wisma PSIM, Tuntut Evaluasi dan Transparansi Manajemen
"Kalau makan ikan laut itu yang dibayangkan suasananya, pengen ke pantai makan ikan tapi jauh, tak bawakan vibes yang ada seperti di desamu," ujarnya, kepada Radar Jogja, Jumat (16/10).
Tak hanya menjual suasana, Pongki mengatakan Warung Pesisir juga menawarkan ragam olahan laut. Mulai dari Ikan Bakar Pesisir, Jimbaran, bumbu ala Timor, hingga Sup Ikan khas racikannya sendiri yang diadaptasi dari kuliner Tailan.
Tak hanya itu, belakangan ini, Pongki juga menambah variasi menu Nasi Tempong yang terjangkau bagi para penggiat kebugaran di sekitar lokasi. Sajian di warung ini pun juga terbilang ramah di kantong mahasiswa, lengkap dengan konsep bebas tambah nasi sepuasnya.
Selain sebagai tempat santai dan kulineran, Warung Pesisir ini sebenarnya secara personal dibangun oleh Pongki untuk sang buah hati. Oleh karena itu, area pasir putih yang dilengkapi wahana permainan dihadirkan agar anak-anak bisa bermain dengan aman sembari orang tua menikmati hidangan.
Warung Pesisir ini kian artistik karena dalam merancang visual awal, Pongki mengaku dibantu oleh pegiat seni Farid Stevi yang turut menuangkan ide serta coretan gambarnya.
Disinggung, terkait performa bisnis, Pongki tak memungkiri dinamika pasang surut omzet adalah hal lumrah. Pada momentum high season atau libur panjang (long weekend), omzet harian warungnya bahkan pernah menembus angka Rp 12 juta per hari. Kendati demikian, fokus utamanya bukan sekadar mengejar angka sesaat, melainkan menjaga konsistensi cita rasa dan pelayanan.
Baca Juga: DPUPKP Sleman Manfaatkan Kemarau untuk Bersihkan Saluran Air, Fokus Cegah Banjir Berulang
Lewat konsistensi Warung Pesisir yang terus terjaga tersebut, Pongki menyimpan harapan sederhana namun mendalam bagi para pelanggannya. "Harapanku, orang semakin sadar bahwa kalau makan ikan itu sehat," tandasnya.
Sebelum menekuni bisnis ini, pria yang akrab disapa Pongki ini sempat mengelola restoran western pada rentang waktu 2019 hingga 2020 silam. Saat bisnis kuliner barat itu melesu, Pongki sempat banting setir menjadi pelatih muay thai dan tinju. Namun, datangnya pandemi Covid-19 memaksa ruang geraknya kembali terbatas.
Baca Juga: Tanggapi Tagar #VanGastelOut dan Desakan Mundur, Van Gastel: Saya Memahami Kekecewaan Suporter
Akan tetapi, hal tersebut tak membuat Pongki patah semangat. Titik balik terjadi pada 2021 lalu. Berangkat dari keinginan menyajikan hidangan yang berbeda dari pasaran, Pongki memanfaatkan lahan kebun seluas 1.200 meter persegi.
Dari lahan yang semula hanya terpakai seperempatnya untuk tanaman hias, terbersit ide memanfaatkan sisa lahan kosong itu menjadi warung bakaran berkonsep pantai. "Tiba-tiba pikiran iki muncul, tak gawe warungan bakar. Karena aku pakai pasir pantai, temane pasir putih," katanya. (ayu/pra)
Editor : Heru Pratomo