JOGJA - Aroma gudeg, rempah jahe, kayu manis, dan santan bercampur sejak pagi di sudut Pasar Ngasem, Jogja. Di tengah menjamurnya kafe dan kuliner kekinian, makanan tradisional masih menjadi daya tarik tersendiri bagi warga maupun wisatawan yang berkunjung ke pasar tersebut.
Salah satunya Warung Makan Bu Sirep. Warung sederhana yang telah bertahan puluhan tahun itu tetap ramai pembeli setiap hari. Tak jauh dari sana, lapak Jenang Yu Jumilah Werni-Werni Jenang juga menunjukkan geliat serupa. Dalam masa libur panjang, penjualannya bahkan bisa mendekati 1.500 cup dalam sehari.
Baca Juga: Laga Kontra Persija Digelar Sore di SSA, Penyesuaian Kick-off Jadi Langkah Mitigasi Keamanan
Warung Makan Bu Sirep kini diteruskan anak dan cucu Mbah Sirep. Meski demikian, Mbah Sirep masih ikut membantu proses berjualan. “Saat ini, yang meneruskan itu anak dan cucu-cucunya. Namun, sebenarnya simbah juga masih ikut membantu,” kata Laila, 27, salah satu cucu Mbah Sirep Jumat (27/9).
Sejak pasar mulai beraktivitas, aroma masakan dari warung tersebut sudah menguar. Berbagai masakan khas Jawa tersaji secara prasmanan. Mulai gudeg dengan cita rasa gurih-manis, lele, ayam, aneka sayuran, lauk panggangan, hingga gorengan.
Aktivitas di warung tersebut bahkan dimulai ketika sebagian besar warga masih terlelap. Persiapan dilakukan sejak pukul 03.00 WIB dan warung mulai buka pukul 05.00 WIB. Menjelang siang, sekitar pukul 11.00 WIB, aktivitas jual beli pun berakhir.
Puluhan tahun bertahan, Bu Sirep tetap mempertahankan resep racikan bumbu yang diwariskan dalam keluarga. Bagi pengelola, konsistensi rasa menjadi bagian penting agar makanan yang disajikan tetap memiliki karakter yang sama dari generasi ke generasi.
Baca Juga: HB X Minta Pemkot Jogja Wajibkan Setiap Toko di Malioboro Miliki APAR, Antisipasi Kebakaran
Harga yang terjangkau juga menjadi daya tarik. Dengan sekitar Rp10 ribu, pembeli sudah dapat menikmati nasi dengan gudeg dan berbagai sayuran. Harga tersebut sengaja dijaga agar makanan tetap dapat dinikmati berbagai lapisan masyarakat.
Cerita serupa terlihat di lapak Jenang Yu Jumilah Werni-Werni Jenang. Meski baru sekitar dua tahun berjualan di Pasar Ngasem, Fajar Suryati, 57, pemilik usaha telah memiliki pengalaman panjang dalam membuat jenang.
“Harus konsisten rasanya dari awal sampai sekarang. Bahan-bahannya tetap berkualitas dan cara memasaknya konsisten, jadi rasanya tidak berubah-ubah,” beber Fajar Minggu (27/9).
Jenang racikan Fajar tidak hanya mengandalkan rasa manis. Jahe dan kayu manis menjadi bagian dari racikan rempah yang dipadukan dengan gula aren serta santan murni.
“Kalau jenang umumnya cuma manis, buatan saya punya rasa rempah yang otentik. Ada sensasi jahe dan kayu manisnya, serta wajib memakai gula aren dan santan asli,” jelasnya.
Konsistensi tersebut berbuah pada tingginya permintaan. Pada hari biasa, Fajar rata-rata menjual sekitar 500 cup jenang per hari. Jumlahnya meningkat menjadi sekitar 800 cup saat akhir pekan. Ketika libur panjang, penjualan bisa mendekati 1.500 cup per hari, belum termasuk porsi yang disantap langsung pengunjung di tempat.
Di tengah kenaikan harga bahan baku dan kemasan, Fajar mengaku harus menyesuaikan harga sejumlah menu. Menu yang sebelumnya Rp 10 ribu kini menjadi Rp 11 ribu, sedangkan menu Rp 12.500 naik menjadi Rp 15 ribu.
Baca Juga: Perasaan Campur Aduk Berbuah Manis, Guru SMPN 4 Pakem Terharu Timnya Raih Kemenangan Sengit
Namun, penyesuaian tersebut tetap diupayakan agar tidak terlalu membebani pembeli. Bagi Fajar, mempertahankan agar kuliner tradisional tetap terjangkau menjadi bagian dari cara menjaga pelanggan. “Prinsip saya tidak perlu ambil untung banyak, yang penting sedikit tetapi berkah,” tuturnya.
Kuliner tradisional di Pasar Ngasem juga mulai menarik wisatawan dari luar daerah. Salah satunya Ayuna, 24, yang datang setelah melihat Pasar Ngasem melalui unggahan di TikTok. Saat berkunjung, Ayuna mencicipi Jenang Yu Jumilah. Ia tertarik dengan beragam pilihan jenang, perpaduan rasa gurih dan manis dari santan, serta harga yang menurutnya masih terjangkau.
“Makanannya enak dan punya rasa khas yang sulit dideskripsikan. Harganya juga ramah di kantong,” ungkapnya.
Meski menikmati pengalaman kuliner di pasar, Ayuna berharap pengelolaan kawasan Pasar Ngasem dapat terus ditingkatkan. Ia menilai pengelompokan jenis pedagang dan penambahan fasilitas tempat duduk dapat membuat pengunjung lebih nyaman. (mg/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita