RADAR JOGJA – Makanan sederhana terkadang menyimpan cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar soal rasa. Di Singapura, makanan seperti kaya toast dan roti es krim tidak hanya menjadi bagian dari keseharian masyarakat, tetapi juga mulai dimanfaatkan sebagai cara untuk mengenalkan sejarah dan warisan budaya kepada generasi muda.
Hal tersebut terlihat dari hadirnya dua proyek buku cerita anak yang mengangkat makanan dan pengalaman kuliner lokal sebagai pintu masuk untuk mengenalkan masa lalu Singapura. Proyek tersebut lahir melalui program Heritage Champions dari Temasek Foundation dan National University of Singapore (NUS).
Salah satunya adalah buku bergambar berjudul Bo’ Hou And The Grand Feast. Buku ini dibuat oleh tim The Hainanese Cooked dan mengajak anak-anak mengenal budaya masyarakat Hainan di Singapura melalui makanan, bahasa dialek, serta cerita mengenai tradisi yang masih bertahan.
Tidak hanya membaca, anak-anak juga diarahkan untuk mengenal warisan tersebut melalui pengalaman langsung. Tim pembuat buku turut mengembangkan peta digital yang menunjukkan sejumlah tempat makan, lokasi bersejarah, hingga tempat yang masih mempertahankan kesenian tradisional Hainan.
Baca Juga: Menikmati Manisnya Cimpa Tuang, Kuliner Tradisional Karo yang Tetap Bertahan di Tengah Zaman Modern
Dengan cara tersebut, kegiatan mengenal budaya tidak harus selalu dilakukan melalui buku sejarah atau kunjungan ke museum. Makanan yang ditemui sehari-hari justru bisa menjadi awal untuk mengenal cerita di balik sebuah komunitas.
Sementara itu, proyek lainnya hadir melalui buku anak berjudul My Ice Cream Uncle. Buku tersebut mengangkat kisah para pedagang es krim keliling yang menjajakan es krim dengan roti. Bagi sebagian masyarakat Singapura, penjual es krim keliling merupakan bagian dari kenangan masa kecil yang perlahan mulai berkurang.
Proyek tersebut dibuat oleh kelompok Scoops of Memory yang beranggotakan mahasiswa. Selain buku, mereka juga membuat dokumenter YouTube mengenai keberadaan pedagang es krim keliling dan perubahan yang terjadi pada usaha tersebut.
Cerita tentang makanan kemudian tidak berhenti pada apa yang tersaji di atas meja. Di balik sepotong roti, selai kaya, atau es krim yang dijajakan dari gerobak, terdapat cerita mengenai orang-orang, kebiasaan, bahasa, dan kehidupan masyarakat yang ikut membentuk identitas sebuah kota.
Hal inilah yang membuat kuliner menjadi salah satu cara menarik untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Anak-anak dapat mengenal sejarah melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka, sehingga warisan budaya tidak terasa sebagai sesuatu yang jauh atau membosankan.
Baca Juga: Disdikpora Kota Jogja Tegaskan PKJ Tidak Hanya Sekedar Pemakaian Baju Adat, Jalmo Kang Utomo
National University of Singapore juga menilai warisan Singapura tidak hanya terdapat pada bangunan bersejarah dan monumen. Warisan tersebut juga hidup melalui pengalaman sehari-hari, makanan, tempat, kenangan, serta cerita dari berbagai komunitas.
Kehadiran proyek seperti ini menunjukkan bahwa menjaga budaya tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang formal. Cerita tentang makanan lokal pun dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan generasi muda dengan masa lalu.
Bagi Singapura, kaya toast, makanan tradisional Hainan, hingga es krim yang dijual dari gerobak bukan hanya bagian dari menu sehari-hari. Makanan tersebut menjadi potongan kecil dari cerita besar tentang bagaimana masyarakat tumbuh dan mempertahankan identitasnya di tengah perubahan zaman.
Dengan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian anak-anak, sejarah akhirnya tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga bisa ditemukan dari makanan yang mereka kenal.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber