Ayam Geprek "Makanan Adat" Mahasiswa yang Tak Pernah Absen di Kala Krisis

Perawati • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 11:13 WIB
ayam geprek
ayam geprek

Bagi mahasiswa yang menjalani kuliah di Kota Jogja, ayam geprek rasanya bukan lagi sekadar makanan. Menu ayam goreng tepung yang digeprek bersama sambal ini seolah telah naik kelas menjadi "makanan adat" yang wajib hadir dalam kehidupan anak kampus.

Ada banyak alasan mengapa ayam geprek begitu lekat dengan keseharian mahasiswa. Ketika tanggal tua mulai menghampiri dan saldo rekening semakin menipis, menu ini kerap menjadi pilihan penyelamat.

Begitu pula ketika jeda kuliah hanya sebentar, sementara tugas menumpuk dan perut mulai keroncongan. Warung ayam geprek menjadi salah satu tujuan yang paling mudah dijangkau.

Formulanya pun sederhana. Nasi hangat, ayam goreng tepung yang renyah, kemudian sambal dengan tingkat kepedasan sesuai kemampuan lidah. Pada sejumlah warung, mahasiswa bahkan bisa mengambil nasi sesuai kebutuhan.

Baca Juga: DPR Resmi Sahkan RUU Reforma Agraria Jadi Usul Inisiatif, Ini Poin Pentingnya!

Perpaduan tersebut membuat ayam geprek terasa cocok dengan karakter kehidupan anak kos: murah, mengenyangkan, praktis, dan bikin melek karena sambalnya.

Namun, hubungan mahasiswa dengan ayam geprek ternyata tidak berhenti pada urusan mengisi perut.

Warung ayam geprek juga sering berubah menjadi ruang berkumpul. Meja makan sederhana bisa menjadi tempat diskusi tugas kelompok, membahas kehidupan kampus, bertukar cerita soal dosen, hingga mengeluhkan deadline yang seolah tidak pernah habis.

Bahkan, memilih level sambal bisa menjadi persoalan serius. Ada mahasiswa yang percaya diri memesan sambal level tinggi, tetapi beberapa menit kemudian sibuk mencari air minum.

Di tempat-tempat semacam itu pula, mahasiswa dari berbagai daerah bertemu. Mereka duduk satu meja, makan bersama, berbagi cerita, sekaligus menjalani rutinitas sebagai perantau yang sedang menempuh pendidikan di Jogja.

Karena itu, istilah "makanan adat" untuk ayam geprek mahasiswa sebenarnya merupakan satire yang menggambarkan kedekatan kuliner ini dengan kehidupan anak kampus.

Bukan karena ayam geprek memiliki status adat secara harfiah, melainkan karena keberadaannya sudah begitu melekat dalam budaya keseharian mahasiswa.

Hampir di setiap kawasan kampus, keberadaan warung ayam geprek seolah menjadi pemandangan yang sulit dipisahkan. Ketika jam makan tiba, para mahasiswa dengan tas punggung dan wajah lelah setelah kuliah pun berdatangan.

Baca Juga: War Bimbel di Jogja, Orang Tua Rela Antre Dini Hari Demi Kursi Les Anak

Bagi sebagian mahasiswa, ayam geprek mungkin hanya sepiring nasi dan sepotong ayam dengan sambal. Tetapi bagi kehidupan anak kos di Jogja, menu tersebut bisa menjadi lebih dari sekadar makanan: teman tanggal tua, tempat bertemu kawan, sekaligus saksi perjalanan kuliah.

Jadi, kalau ada yang bertanya apa "makanan adat" mahasiswa Jogja, jawabannya mungkin sederhana: ayam geprek. Asal sambalnya jangan sampai level yang membuat menyesal.

Editor : Bahana.
mahasiswa Jogja kuliner Jogja Anak Kos ayam geprek Yogyakarta