KARO - Cimpa menjadi salah satu kudapan tradisional yang lekat dengan kehidupan masyarakat Karo. Makanan yang dibuat secara sederhana ini tidak hanya hadir ketika masyarakat menggelar pesta adat atau Kerja Tahun, tetapi juga sering dibuat dan dinikmati dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, keberadaan cimpa terasa berbeda ketika Kerja Tahun berlangsung. Makanan ini hampir selalu disiapkan sebagai salah satu sajian untuk keluarga dan tamu yang datang berkunjung. Kehadirannya menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Karo dalam memeriahkan pesta tahunan.
Hal tersebut terlihat dalam pelaksanaan Kerja Tahun di Desa Sukamandi, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang berlangsung pada Sabtu-Minggu, 17-18/Juli/ 2026. Di tengah berbagai kegiatan dan pertemuan keluarga, cimpa menjadi salah satu makanan tradisional yang turut disajikan.
Cimpa dibuat menggunakan bahan-bahan yang sederhana dan mudah ditemukan. Bahan yang digunakan antara lain kelapa setengah tua, gula merah, daun pandan, air, merica hitam, dan garam. Daun pisang digunakan sebagai pembungkus sebelum cimpa dimasak.
Proses pembuatan cimpa juga menjadi bagian dari kebersamaan. Bahan-bahan yang telah disiapkan diolah dan kemudian dibungkus menggunakan daun pisang. Kegiatan tersebut dapat dilakukan bersama anggota keluarga sehingga proses membuat makanan sekaligus menjadi kesempatan untuk berkumpul dan berbagi cerita.
Baca Juga: Ancaman AI dan Masa Depan Nuklir, Strategi BRIN dan Poltek Nuklir Cetak SDM Unggul
Bagi masyarakat Karo, cimpa memiliki kedekatan dengan berbagai kesempatan berkumpul. Makanan ini dapat disajikan sebagai kudapan keluarga tanpa harus menunggu adanya pesta tahunan. Namun, saat Kerja Tahun berlangsung, jumlah cimpa yang dibuat biasanya lebih banyak karena makanan tersebut juga disiapkan untuk menjamu keluarga dan kerabat yang datang.
Kerja Tahun sendiri menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat Karo untuk berkumpul. Keluarga dan kerabat yang berada di tempat berbeda dapat kembali bertemu dan menikmati berbagai sajian yang telah disiapkan. Dalam suasana tersebut, makanan tradisional seperti cimpa menjadi bagian yang melengkapi perayaan.
Cimpa juga menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi bagian dari pelestarian budaya. Pengetahuan mengenai bahan, cara membuat, hingga kebiasaan menyajikannya dapat diteruskan dari orang tua kepada anak-anak. Dengan demikian, tradisi kuliner tetap dikenal oleh generasi muda.
Di tengah perkembangan makanan modern, cimpa tetap bertahan di tengah masyarakat Karo. Makanan ini tidak hanya memiliki tempat dalam perayaan adat, tetapi juga tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Saat Kerja Tahun tiba, cimpa kembali menjadi sajian yang mempertemukan keluarga dan tamu dalam satu meja. Sederhana dalam bahan dan pembuatannya, cimpa tetap memiliki arti sebagai bagian dari kebiasaan, kebersamaan, dan identitas kuliner masyarakat Karo.
(Frencia Keliat)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber