SLEMAN - Keberadaan kimpul dulu sering dipandang sebelah mata. Namun kini pamornya mulai naik kelas berkat diolah menjadi berbagai kuliner modern.
Guru Mata Pelajaran Kuliner SMK YPKK 2 Sleman Fezri Tria menyebut, kimpul memiliki keunggulan kompetitif sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras. Lantaran salah satu jenis umbi talas itu memiliki kandungan karbohidrat dan gizi tinggi.
Dikatakan, popularitas kimpul sebagai bahan dasar pangan olahan memang tidak seberuntung seperti umbi-umbian lain. Olahan kimpul selama ini hanya terbatas pada dikukus atau digoreng. Padahal pengolahan kimpul bisa lebih fleksibel.
Menurutnya, kimpul sangat potensial masuk ke ranah industri pastry dan bakery. Tepung olahan kimpul dapat dikreasikan menjadi cookies, muffin, cake, hingga crackers dan keripik renyah.
Baca Juga: Serat Larut dan Rasa Kenyang Kimpul Lebih Lama; Jangan asal Rebus, Perhatikan Kalsium Oksalat
Tidak hanya itu, kimpul juga berpotensi menggantikan peran bahan baku modern pada sajian western. Salah satunya adalah sajian mashed kimpul sebagai alternatif mashed potato.
"Tekstur kimpul yang telah diolah dengan tepat itu justru jauh lebih lembut (soft) dibandingkan kentang. Ini membuktikan kimpul sangat worth it untuk dikembangkan menjadi menu alternatif bernilai ekonomis," ujar Fezri kepada Radar Jogja, Jumat (28/9).
Namun pengolahan kimpul memiliki tantangan tersendiri. Kandungan senyawa pemicu gatal (kristal kalsium oksalat) membuat masyarakat enggan mengolahnya. Hal itu juga yang membuat kimpul menjadi bahan pangan kurang populer.
Fezri menilai hal itu bukanlah hambatan berarti jika masyarakat memiliki edukasi pengolahan yang tepat. Pembersihan, perendaman, serta proses perebusan atau pengukusan hingga matang sempurna merupakan kunci agar senyawa pemicu gatal tersebut akan hilang sepenuhnya.
"Edukasi pengolahan dan mengemasnya secara inovatif adalah yang terpenting. Jika dikelola dengan baik, kimpul bukan lagi makanan yang kalah populer, melainkan komoditas kuliner lokal DIJ yang bernilai jual tinggi," tandasnya. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja