Sego Gurih Sekaten, Kuliner Sultan Agung yang Cuma Ada Setahun Sekali

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 16:33 WIB
Sego gurih dan lauk pauknya. (Foto: X/ellyaqul)
Sego gurih dan lauk pauknya. (Foto: X/ellyaqul)

 


RADAR JOGJA - Ada sebuah hidangan yang jadi buruan khusus warga dalam rangkaian Hajad Dalem Sekaten Keraton Yogyakarta, yaitu sego gurih sekaten.

Hidangan ini hanya muncul setahun sekali, khusus sepekan selama perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW berlangsung.

Kenapa hanya setahun sekali?

Merujuk situs resmi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sego gurih sudah jadi sajian ikonik Hajad Dalem Sekaten sejak zaman Sultan Agung.

Baca Juga: Liverpool Tegaskan Tak Akan Rekrut Gelandang Bertahan, Andoni Iraola Fokus Perbaiki Sistem Tim

Asal-usulnya diadaptasi dari kebiasaan masyarakat Arab membuat nasi samin, nasi yang dimasak dengan minyak samin untuk perayaan hari besar.

Masalahnya, minyak samin bukan bahan yang lazim tersedia di Jawa kala itu.

Sultan Agung pun mengganti minyak samin dengan santan kelapa, bahan yang jauh lebih mudah didapat di tanah Jawa.

Dari situlah lahir sego gurih versi Keraton, sekaligus jadi salah satu bentuk syiar agama lewat kuliner, menarik warga berkumpul merayakan Maulid.

Baca Juga: Kemhan Berikan Pernyataan Terkait Penggunaan Hijab Bagi Mahasiswa UNHAN RI


Sekilas, sego gurih memang mirip nasi uduk, sama-sama nasi putih yang dimasak santan hingga terasa gurih.

Nasi uduk sendiri lahir dari persilangan budaya Melayu dan Jawa, memakai rempah yang jauh lebih kompleks.

Seperti daun salam, serai, cengkeh, pala, hingga daun jeruk, sehingga aromanya lebih tajam dan sangat kaya rempah.

Sedangkan sego gurih ala Jawa, termasuk versi Sekaten ini, cenderung lebih sederhana bumbunya.

Mengandalkan santan sebagai kekuatan utama rasa tanpa rempah sebanyak nasi uduk.

Baca Juga: Bank Mandiri Blokir Rekening Koordinator AMPB, Netizen Ramai Serukan Tagar #BoikotMandiri


Bahkan menurut sejarawan kuliner, nasi uduk sendiri diyakini justru terinspirasi dari sego gurih Jawa yang berakulturasi dengan nasi lemak Melayu, bukan sebaliknya. 

Isian sego gurih sekaten juga jadi ciri khasnya sendiri, suwiran ayam, telur, kedelai goreng putih dan hitam, sambal pecel kering, udang kecil (rebon), dan lalapan, kombinasi yang tidak sepenuhnya sama dengan lauk nasi uduk pada umumnya yang biasanya berisi semur jengkol, tempe orek, atau bihun goreng.

Lapak-lapak sego gurih bisa ditemui berderet di bawah tenda halaman kompleks Masjid Gedhe Kauman, tempat yang sama dengan lokasi Tabuh Gangsa berlangsung, sehingga kamu bisa sekaligus menikmati alunan gamelan pusaka sambil menyantap hidangan bersejarah ini. 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Kuliner Sultan Agung Hajad Dalem Sekaten SEGO GURIH SEKATEN Keraton Ngayogyakarta Maulid nabi muhammad SAW