Mie Pentil Bantul Ikut Viral, Kuliner Kenyal Warisan Lama Kembali Diburu

Aris Romadhon • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:36 WIB
Mbah Marmi penjual Mie Pentil di Pasar Bantul - Aris Romadhon/Radar Jogja
Mbah Marmi penjual Mie Pentil di Pasar Bantul - Aris Romadhon/Radar Jogja

Popularitas kuliner tradisional Bantul kembali meningkat setelah sejumlah makanan khas daerah tersebut ramai diperbincangkan di media sosial. Setelah kimpul mencuri perhatian, kini giliran mie pentil yang ikut menjadi buruan para pencinta kuliner.

Makanan berbahan dasar pati singkong dengan tekstur kenyal tersebut belakangan banyak dicari masyarakat yang penasaran dengan cita rasa kuliner tradisional Bantul.

Salah satu penjual mie pentil yang masih bertahan hingga kini adalah Marmi (67). Warga Seyegan, Srihardono, Pundong, Bantul, tersebut telah menjalankan usaha pembuatan dan penjualan mie pentil selama kurang lebih empat dekade.

Mbah Marmi membuat sendiri mie pentil yang dijualnya dengan menggunakan bahan dasar pati singkong atau telo. Bahan baku tersebut diperoleh dari warga sekitar yang kemudian diolah menjadi mie.

Baca Juga: Prediksi Skor Benfica vs Aarhus Playoff Europa League Jumat 21 Agustus, The Eagles Pesta Gol?

"Tetangga pada buat pati, terus disetor ke saya. Setelah itu digiling biar jadi mie," ujar Marmi saat ditemui Radar Jogja di Pasar Bantul, Kamis (20/8/2026).

Proses pembuatan mie pentil dilakukan Marmi pada malam hari. Ia mulai mengolah bahan sekitar pukul 18.00 WIB dan baru menyelesaikannya sekitar pukul 22.00 WIB.

Setelah proses produksi selesai, Marmi bersiap untuk berjualan. Ia berangkat menuju Pasar Bantul sekitar pukul 04.30 WIB.

Dalam sehari, sekitar 32 hingga 35 kilogram mie pentil dibawanya ke pasar. Jumlah tersebut tidak selalu bertahan hingga siang hari karena pembelinya cukup beragam.

"Waktu habisnya tidak tentu, kadang pagi sudah habis, kadang jam 10 atau jam 11, mboten mesti (tidak pasti)," tuturnya.

Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau. Mie pentil Mbah Marmi dapat dibeli mulai dari Rp2 ribu. Pembeli juga bebas menentukan jumlah yang ingin dibawa pulang.

"Terserah pembeli mau beli berapa," lanjutnya.

Sebelum menetap di Pasar Bantul, Marmi sempat berjualan mie pentil di sejumlah pasar. Ia pernah berpindah-pindah lokasi, mulai dari Pasar Mangiran, Gumulan, Jodog hingga Gesikan.

Kini Pasar Bantul menjadi tempatnya melanjutkan usaha yang telah ditekuni selama puluhan tahun.

Popularitas mie pentil di media sosial menjadi angin segar bagi kuliner tradisional tersebut. Makanan yang sebelumnya hanya dikenal oleh sebagian masyarakat kini kembali mendapat perhatian, termasuk dari generasi muda.

Baca Juga: Diteror Pembakaran OTK, Siswa MI YAPPI Natah Gunungkidul Terpaksa Belajar di Masjid

Salah satunya Novi, 25, warga Pajangan, Bantul. Ia sengaja datang ke Pasar Bantul setelah melihat mie pentil kembali ramai diperbincangkan di TikTok.

Novi mengaku sudah cukup lama tidak menikmati mie pentil di Pasar Bantul. Tren di media sosial akhirnya membuatnya kembali penasaran dengan rasa makanan tersebut.

"Rasanya khas banget. Sudah lama sekali tidak makan di Pasar Bantul, ini nyobain lagi karena lagi viral di TikTok," ujar Novi.

Editor : Bahana.
Mie Pentil Bantul Wisata Kuliner Jogja pasar bantul kuliner tradisional kuliner bantul