Berawal dari tiga angkringan sederhana di tepi hutan, kini 14 kios kuliner tradisional di Blok Pemanfaatan Tahura Bunder berkembang menjadi destinasi kuliner.
Dengan mengandalkan menu khas Gunungkidul dan hasil alam sekitar, kawasan yang dikelola KTH Ngudi Lestari itu membuktikan makanan tradisional tetap memiliki daya saing di tengah maraknya kuliner kekinian.
Di tengah menjamurnya makanan kekinian, deretan kios di Blok Pemanfaatan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder, Kapanewon Playen, justru memilih bertahan dengan menu tradisional khas Gunungkidul.
Thiwul, gatot, belalang (walang), jangkrik hingga wader menjadi andalan yang kini mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah.
Pilihan tersebut bukan sekadar melestarikan kuliner daerah, tetapi juga menjadi strategi usaha yang membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui pemanfaatan sumber daya hutan secara berkelanjutan.
Kawasan kuliner itu bermula pada 2018 dari tiga angkringan sederhana di tepi hutan. Bertambahnya jumlah pedagang mendorong mereka mengajukan izin pemanfaatan kawasan kepada Balai Tahura Bunder. Melalui pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngudi Lestari, para pedagang kemudian mendapat izin mengelola Blok Pemanfaatan Tahura Bunder yang kini berkembang menjadi 14 kios.
Baca Juga: 941 Atlet Ikuti Kejuaraan Atletik Open Se-DIY Tahun 2026 di Stadion Mandala Krida Jogja
Salah satu penggagas sekaligus pemilik kios, Sri Wahyuni mengatakan, sejak awal kelompoknya sengaja mengangkat makanan khas Gunungkidul yang mulai sulit dijumpai. Seluruh pedagang sepakat menyajikan menu yang hampir sama sebagai identitas kawasan, meski setiap kios mengolah masakannya secara mandiri.
"Ternyata peminat makanan tradisional masih banyak. Karena itu kami sepakat mempertahankan menu khas Gunungkidul, meski masing-masing memasak sendiri," ujarnya.
Keunikan kawasan ini juga terletak pada pemanfaatan hasil alam di sekitar hutan. Wader diperoleh dari Kali Oya, sedangkan belalang dan jangkrik berasal dari kawasan sekitar hutan.
Di bawah naungan KTH Ngudi Lestari, pembagian peran dilakukan agar manfaat ekonomi dirasakan lebih luas. Tidak semua anggota berjualan di kios. Sebagian bertugas mencari bahan baku, kemudian memasoknya kepada para pedagang.
Promosi dari mulut ke mulut yang diperkuat media sosial membuat kawasan kuliner tersebut semakin dikenal. Dampaknya, pendapatan pedagang terus meningkat. Yuni mengaku, omzet yang diperoleh setiap kios kini dapat mencapai jutaan rupiah per hari, terutama saat akhir pekan atau musim liburan. Usahanya pun telah berkembang hingga mampu mempekerjakan dua karyawan.
Pengembangan kawasan juga terus dilakukan secara bertahap dengan mengandalkan kemampuan kelompok. Di belakang deretan kios, sejumlah gazebo telah dibangun sebagai bagian dari rencana penambahan taman bermain anak dan area pertemuan.
Baca Juga: Lewat LLumar, CPF1, dan Duratect, PT Jaya Kreasi Indonesia Rayakan 25 Tahun Eksistensi di GIIAS 2026
"Harapan kami, pengunjung tidak hanya datang untuk makan lalu pulang, tetapi juga bisa menikmati suasana dan beraktivitas di sini," kata Yuni.
Keberhasilan KTH Ngudi Lestari mengembangkan kawasan kuliner Tahura Bunder menunjukkan bahwa kreativitas memilih menu tradisional dapat menjadi kekuatan bisnis.
Berbekal potensi hasil hutan dan kekompakan warga, kawasan yang berawal dari tiga angkringan sederhana itu kini tumbuh menjadi salah satu destinasi kuliner yang ikut menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar hutan. (cr1/pra)
Editor : Herpri Kartun