Di antara beragam jajanan yang ada di Kota Jogja, kue lekker buatan Pak Min masih memiliki pelanggan yang setia. Salah satunya adalah GKR Bendara yang telah membeli lekker buatannya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dan hingga kini masih menjadi pelanggan.
Pak Min mengaku telah berjualan sejak sekitar tahun 1970-an. Selama puluhan tahun itu, ia tetap mempertahankan usahanya dengan berkeliling ke beberapa titik di Kota Yogyakarta. "Mulai SD. Saya jualan sudah dari lama, sudah dari tahun 70 saya jualan," ujarnya.
Setiap pagi, Pak Min mulai berjualan sekitar pukul 06.00 WIB di depan Masjid At-Tahkim, Jalan KH Ahmad Dahlan, Suronatan, Notoprajan, Ngampilan. Ia berada di lokasi tersebut hingga sekitar pukul 09.00 WIB sebelum melanjutkan berjualan ke kawasan Jalan Ibu Ruswo, Wijilan.
Setelah dari Wijilan, Pak Min kembali berpindah ke kawasan Alun-alun Utara. Menjelang siang hingga setelah waktu Ashar, ia melanjutkan berjualan di kawasan Punokawan. Rute tersebut menjadi aktivitas yang dijalaninya setiap hari.
Baca Juga: Siswi SMP Angkasa Adisutjipto Juara O2SN DIY, Siap Kibarkan Nama Yogyakarta di Tingkat Nasional
Lekker yang dijual Pak Min memiliki ciri berbeda dengan lekker yang banyak dijumpai saat ini. Teksturnya cenderung lembut, bukan renyah. Isiannya juga sederhana, yakni pisang, gula, dan susu kental manis, tanpa tambahan topping lain.
Selain mempertahankan cita rasa, Pak Min juga tetap menjual satu porsi lekker dengan harga sekitar Rp2.500 per biji. Kesederhanaan rasa dan harga yang terjangkau membuat jajanan ini masih dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Di tengah aktivitasnya berjualan setiap hari, Pak Min masih melayani pelanggan lama maupun pembeli yang datang untuk menikmati lekker buatannya. Salah satu di antaranya adalah GKR Bendara yang tetap membeli lekker Pak Min sejak masa sekolah dasar hingga sekarang.