Asap tipis mengepul dari atas wajan di sebuah lapak nasi goreng seberang pintu masuk Stasiun Kebumen. Aromanya pun menggugah selera. Dari kejauhan, sebuah lengan mekanis terlihat bergerak. Perlahan tampak mengaduk nasi dan racikan bumbu secara otomatis. Penerapan teknologi canggih ini sontak membuat sejumlah pengguna jalan penasaran.
Lapak nasi goreng milik Slamet Afandi memang tampak tak seperti pada umumnya. Dia belakangan kerap memantik perhatian karena berhasil menghadirkan robot di lapaknya. Robot tersebut sengaja dibuat hanya untuk membantu dirinya dalam memasak pesanan nasi goreng.
Sekilas, bentuk robot yang diciptakan mandiri itu berbeda dengan robot canggih seperti di layar lebar. Strukturnya berbentuk kotak dengan ukuran sekitar 60 sentimeter.
Jika diamati dari dekat sebagian komponen robot tersebut memanfaatkan onderdil bekas kendaraan. Yang paling kentara adalah gir sepeda motor. Ada juga komponen lain yang diambil dari onderdil mesin cuci.
Robot ini dirancang dengan kompor dan tungku sebagai tempat wajan. Di samping itu juga dilengkapi empat spatula, masing-masing dengan posisi saling berhadapan. Saat dioperasikan lengan mekanis pada robot dapat berputar otomatis.
Motor listrik yang dirancang mampu menggerakkan spatula berfungsi untuk mengaduk racikan nasi goreng agar matangnya lebih merata. "Saya buat sendiri. Tidak pakai tutorial," kata pria 52 tahun itu saat ditemui Radar Jogja, Rabu petang (8/7).
Warga asal Desa Karangtanjung, Kecamatan Alian ini membuktikan sebuah inovasi tidak harus lahir dari peralatan mahal. Meski tak menyebut detail nomimal biaya yang dikeluarkan, dia menyatakan semua serba ekonomis dan terjangkau karena diambil dari onderdil yang banyak tersedia di bengkel kendaraan. "Cari barang bekasan, tapi sudah dicuci bersih biar steril," lanjutnya.
Sebelum dioperasikan, robot tersebut telah melalui serangkaian uji coba. Awalnya, Afandi pesimim karya yang dibuat mangkrak begitu saja karena pembuatan butuh waktu panjang.
Dimulai dari menentukan kerangka pola dan bentuk ideal. Setelah semua itu selesai, persoalan lain kemudian muncul. Dia harus mengukur onderdil yang akan dipasang dengan sangat presisi.
Baca Juga: Pieter Huistra Ingin Bawa PSS Sleman Lebih Baik Lagi
Butuh ketepatan dan kecermatan, sebab jika ukuran selisih sedikit saja, lengan mekanis tidak akan berfungsi optimal. "Proses pembuatan setahun. Lama karena perlu pencocokan alat. Salah sedikit tidak jalan. Terlalu kencang nasi juga bisa berantakan," ungkapnya.
Afandi mengaku bukan sosok dari latar belakang teknisi. Tapi dengan tekad bulatnya, kini berbuah menjadi sebuah karya yang dapat membantu pekerjaannya sebagai penjual nasi goreng.
Memasuki tiga bulan berjualan, lapaknya kini selalu ramai pembeli karena rasa penasaran dengan adanya robot. "Adanya alat ini untuk membantu. Sambil ngaduk otomatis, tangan bisa pegang kerjaan lain," ujarnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo