Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menelusuri Jejak Jenang Upeh, Kuliner Legendaris Yogyakarta yang Kian Langka

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Selasa, 7 Juli 2026 | 14:44 WIB
Jenang Upeh - rri.co.id
Jenang Upeh - rri.co.id

Yogyakarta tidak pernah kehabisan cara untuk memanjakan lidah para pencinta kuliner. Ketika berbicara tentang kuliner manis, ingatan kita mungkin langsung tertuju pada bakpia yang legit atau gudeg dengan arehnya yang kental. 

Jauh di dalam bilik-bilik pasar tradisional dan dapur-dapur tua tersembunyi sebuah mahakarya kuliner yang kian langka, dibalut kesederhanaan yang sarat makna sebut saja Jenang Upeh namanya.

Bagi generasi muda, nama "Upeh" mungkin terdengar asing. Namun bagi mereka yang merindukan cita rasa autentik masa lalu, jenang ini adalah mesin waktu yang membawa kembali kenangan manis Yogyakarta tempo dulu.

Secara harfiah, Jenang berarti bubur kental atau dodol dalam tradisi kuliner Jawa, sedangkan Upeh (atau upih) merujuk pada pelepah pohon pinang yang telah kering.

Jenang Upeh adalah penganan manis sejenis dodol tradisional yang dalam proses pembuatan, pemadatan, hingga penyajiannya menggunakan pelepah pinang sebagai wadah utamanya. Upeh dipilih karena memiliki karakteristik unik yaitu kuat, kaku, namun mampu memberikan aroma khas yang alami pada makanan di dalamnya.

Baca Juga: SPMB Cadangan Ditutup, Mayoritas Kursi Kosong SMA Negeri di Jogja Berhasil Terisi

Membuat Jenang Upeh bukanlah perkara mudah. Kuliner ini menuntut ketelatenan tinggi, sebuah cerminan dari filosofi masyarakat Jawa yang menghargai proses.

Jenang ini terbuat dari perpaduan bahan alami yang sederhana namun bermutu, yaitu tepung beras, santan kelapa kental, gula jawa pilihan, dan sedikit garam untuk penyeimbang rasa. Semua bahan dicampur dan dimasak di atas tungku kayu bakar menggunakan wajan tembaga besar.

Adonan harus diaduk selama berjam-jam agar tidak gosong di bagian bawah dan mencapai tingkat kekentalan (tanak) yang sempurna. Setelah adonan jenang matang dan masih dalam kondisi panas membara, jenang dituangkan ke atas lembaran pelepah pinang (upeh) yang telah dibersihkan. Upeh kemudian dilipat atau digulung sedemikian rupa, lalu diikat kuat menggunakan tali bambu atau tali serat alami.

Saat jenang mulai mendingin di dalam upeh, teksturnya akan memadat namun tetap menjaga kelembutan di bagian dalam. Aroma pelepah pinang kering yang hangat akan terserap ke dalam jenang, menciptakan perpaduan aroma manis-gurih yang tidak bisa ditiru oleh kemasan modern apa pun.

Saat dibuka ikatan talinya dan dipotong, kita akan disambut oleh permukaan jenang yang mengilat kecokelatan. Ketika digigit, teksturnya terasa legit, kenyal, namun lembut di lidah.

Rasa manis dari gula merahnya tidak pekat atau bikin enek melainkan berpadu pas dengan gurihnya santan berminyak yang keluar karena proses memasak yang lama. Ada sentuhan rasa smoky dan keharuman upeh yang samar memberikan sensasi rasa yang sangat membumi.

Bagi masyarakat Yogyakarta, jenang bukan sekadar pengisi perut. Jenang adalah simbol doa, rasa syukur, dan perekat sosial. Dalam berbagai upacara adat atau hajatan, jenang hampir selalu hadir sebagai lambang doa agar kehidupan berjalan selaras, rukun antar-sesama, dan membawa berkah.

Penggunaan pelepah pinang juga mengisyaratkan kearifan lokal dalam memanfaatkan alam secara bijaksana. Sebelum plastik menginvasi dunia kuliner, nenek moyang kita telah menemukan teknologi pengemasan organik yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga berfungsi sebagai pengawet alami agar jenang bisa bertahan selama beberapa hari tanpa bahan kimia.

Baca Juga: Suara Pecinta Sepak Bola Desak FIFA Pecat Gianni Infantino Usai Kontroversi Penangguhan Sanksi Folarin Balogun

Sayangnya, beriringan dengan waktu, keberadaan Jenang Upeh kian terombang-ambing gempuran camilan modern. Pohon pinang yang semakin jarang ditemukan di area perkotaan Yogyakarta membuat pasokan upeh menipis.

Alhasil, pembuat Jenang Upeh asli kini bisa dihitung dengan jari, biasanya dapat ditemukan di sudut-sudut pasar tradisional legendaris seperti Pasar Beringharjo atau pasar-pasar lokal di daerah Bantul dan Kulon Progo.

Mencicipi sepotong Jenang Upeh hari ini bukan lagi sekadar urusan memanjakan lidah, melainkan sebuah tindakan apresiasi terhadap warisan budaya yang adiluhung. Jika berkunjung ke Yogyakarta dan beruntung menemukan penjual kuliner langka ini, jangan ragu untuk membelinya sebab di dalam gulungan pelepah pinang itu, ada sejarah, kerja keras, dan cinta akan tradisi yang terus dirawat agar tidak punah ditelan zaman.

 

Editor : Bahana.
#jenang upeh #kuliner yogyakarta