RADAR JOGJA - Seblak merupakan kuliner khas Bandung, Jawa Barat.
Kuliner ini sangat digemari oleh anak muda, khususnya kaum perempuan.
Rasa pedas dan aroma rempah dan kencur yang kuat, membuat siapa saja terpikat untuk mencicipinya.
Kata seblak berasal dari kata Sunda “nyegak” yang berarti membangkitkan rasa.
Kata ini dipilih untuk menggambarkan sensasi pedas yang langsung terasa di tenggorokan ketika menyantapnya.
Awal mulanya, seblak muncul sebagai makanan sederhana dari hasil kreativitas warga Sunda dalam mengolah kerupuk sisa.
Krupuk yang pada umumnya digoreng, oleh warga Sunda dimasak dengan kuah dan campuran bumbu seperti bawang, kencur, dan cabai.
Dengan kreativitas demikian, kuliner seblak kemudian melejit populer se-antero Indonesia dan digemari anak muda.
Bahan-bahan:
Kerupuk aci atau kerupuk bawang (sesuai selera)
Air kaldu ayam atau sapi (sesuai selera)
Minyak goreng (sesuai selera)
Garam (sesuai selera)
Gula (sesuai selera)
Bumbu halus:
3 siung bawang putih
Cabai merah sesuai tingkat kepedasan yang diinginkan
1–2 cm kencur
Bahan pelengkap (opsional):
Mi instan
Ceker
Sawi
Makaroni
Bakso
Dumpling keju
Sosis
Telur ayam
Daun bawang iris
Bawang goreng
Prosedur pengolahan:
1 Rendam kerupuk dalam air hangat hingga lunak.
2 Tiriskan agar tidak terlalu lembek saat dimasak.
3 Haluskan bawang putih, cabai merah, dan kencur menggunakan ulekan atau blender hingga benar-benar halus.
4 Panaskan sedikit minyak dalam wajan, lalu tumis bumbu halus hingga harum dan matang.
5 Tuangkan air kaldu ke dalam wajan, lalu bumbui dengan garam dan gula secukupnya.
6 Masak hingga kuah mendidih.
7 Masukkan kerupuk yang sudah direndam, aduk perlahan hingga kerupuk menyerap bumbu dan kuah terasa merata.
8 Tambahkan pelengkap.
9 Masak hingga semua bahan matang dan sajikan bersama taburan daun bawang dan bawang goreng.
Resep seblak ini bisa diatur tingkat kepedasannya sesuai dengan yang diinginkan.
Perpaduan rasa pedas, gurih bersama rempah-rempah membuatnya cocok untuk disantap kapan saja.
Semoga resep ini bermanfaat dan selamat mencoba. (Ahmad Yinfa Cendikia)
Editor : Meitika Candra Lantiva