Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lontong Cap Go Meh, Cerita Akulturasi Budaya dalam Sepiring Hidangan

Magang Radar Jogja • Selasa, 27 Januari 2026 | 09:10 WIB
Lontong Cap Go Meh, hidangan yang menjadi tanda akulturasi kebudayaan.
Lontong Cap Go Meh, hidangan yang menjadi tanda akulturasi kebudayaan.

RADAR JOGJA - Lontong cap go meh menjadi salah satu hidangan khas yang kerap hadir saat perayaan Cap Go Meh, penutup rangkaian Tahun Baru Imlek yang dirayakan masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Lebih dari sekadar sajian kuliner, lontong cap go meh menyimpan cerita akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara, tercermin dari perpaduan bahan, cita rasa, serta tradisi penyajiannya yang telah diwariskan lintas generasi.

Lontong cap go meh dikenal sebagai hidangan khas yang identik dengan perayaan Cap Go Meh di Indonesia.

Sajian ini umumnya terdiri dari lontong yang disajikan bersama opor ayam, telur rebus, sambal goreng ati, sayur labu siam, serta taburan bubuk kedelai.

Kehadirannya menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa di Indonesia dalam merayakan hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.

Berdasarkan sejarah, lontong cap go meh merupakan hasil akulturasi budaya antara masyarakat Tionghoa dan budaya lokal Nusantara.

Hidangan ini tidak ditemukan dalam tradisi Cap Go Meh di Tiongkok.

Masyarakat Tionghoa peranakan di Jawa pada masa lalu disebut mulai mengganti sajian khas Imlek dengan bahan dan masakan lokal yang lebih mudah diperoleh, seperti lontong dan opor, tanpa menghilangkan makna perayaannya.

Proses akulturasi tersebut terlihat dari penggunaan lontong sebagai pengganti nasi, yang merupakan makanan pokok masyarakat Jawa.

Sementara opor ayam dan sambal goreng merupakan masakan khas Nusantara yang kemudian dipadukan dalam satu hidangan dan disajikan saat Cap Go Meh.

Perpaduan ini mencerminkan adaptasi budaya yang berlangsung secara turun-temurun.

Setiap komponen dalam lontong cap go meh juga memiliki makna simbolis.

Lontong dimaknai sebagai harapan akan kelancaran hidup, sementara telur rebus melambangkan kesuburan dan awal yang baru.

Opor ayam dan sayur labu kerap dimaknai sebagai simbol kemakmuran dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga.

Selain sarat makna, lontong cap go meh juga menjadi simbol kebersamaan.

Hidangan ini biasanya disajikan untuk disantap bersama keluarga besar pada hari Cap Go Meh.

Tradisi makan bersama tersebut menjadi bagian penting dalam mempererat hubungan antaranggota keluarga dan menjaga nilai kekeluargaan.

Hingga kini lontong cap go meh masih bertahan sebagai tradisi kuliner yang dilestarikan oleh masyarakat Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia.

Bahkan, sajian ini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga oleh masyarakat umum, sehingga memperkuat posisinya sebagai kuliner hasil perjumpaan budaya yang hidup di tengah masyarakat. (Salwa Caesy)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Nusantara #akulturasi budaya #lontong cap go meh #sejarah #Cap Go Meh #hidangan #Budaya TiongHoa