Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menjelajah 5 Kuliner Legendaris Khas Yogyakarta, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Tahun 1940

Magang Radar Jogja • Kamis, 15 Januari 2026 | 04:40 WIB
Mbah Satinem penjual lupis yang mendunia.
Mbah Satinem penjual lupis yang mendunia.

RADAR JOGJA - Plesiran ke Yogyakarta rasanya tidak lengkap kalau tidak mencoba kulinernya.

Di balik menjamurnya kafe-kafe modern di antero kota, ternyata Kota Gudeg menyimpan khazanah kuliner legendaris yang telah bertahan melintasi zaman.

Beberapa diantara sudah melewati generasi ketiga dan resep tidak mengalami perubahan sejak era kemerdekaan. 

Berikut beberapa kuliner legendaris khas Kota Gudeg yang menawarkan cita rasa otentik dan wajib dicoba.

1. Gudeg Yu Djum (Sejak 1950)

Salah satu maestro gudeg yang cabangnya ada dimana-mana adalah gudeg gaya kering yang dipelopori oleh Yu Djuwariah (Yu Djum).

Yu Djum kala itu memulai jualannya di sekitaran Jalan Wijilan.

Berkat ketekunannya mempertahankan resep gudeg rahasianya, Yu Djum kini menjadi standar utama gudeg khas Jogja.

Berpusat di Jalan Wijilan, No 167, dengan jam buka mulai pukul 06.00-22.00 WIB, pembeli bisa langsung melihat proses pengemasan ke dalam besek atau kendil dengan rentang harga dari Rp 15.000 hingga Rp 300.000.

Mangut Lele Mbah Marto (Sejak 1969)

Mbah Marto memulai dagangannya dengan (ngider) keliling sejak tahun 1960-an.

Setelah mangutnya mulai dikenali masyarakat, Ia kemudian berdagang menetap di rumahnya.

Uniknya, meski masakan mangutnya sudah populer dan terkenal, Mbah Marto tetap mempertahankan ciri khasnya dengan menyediakan resto bernuansa pawon atau dapur tradisional.

Mangut Lele Mbah Marto berlokasi di Sewon, Bantul.

Jam bukanya mulai pukul 08.00 hingga 16.30 WIB.

Pembeli bisa langsung mengambil sendiri lele asap dengan kuah santan pedas yang dibanderol dengan harga mulai dari Rp 25.000 hingga Rp 50.000 tergantung porsi, sambil menikmati aroma kayu bakar khas kampung.

Sate Klatak Pak Bari (Sejak 1992)

Sate klatak didirikan oleh Pak Bari pada tahun 1992 dengan resep turun-temurun warisan dari kakeknya yaitu Mbah Amad yang mempopulerkan sate jeruji besi pada tahun 1940-an.

Sate Klatak Pak Bari berlokasi di Pasar Wonokromo dan buka dari pukul 18.30-01.00 WIB.

Sate yang dibanderol dengan harga Rp 25.000 ini menawarkan cita rasa daging kambing muda original dan hanya dibumbui garam.


Penggunaan jeruji sepeda sebagai tusukan dimanfaatkan supaya panas dapat dihantarkan ke dalam daging, sehingga daging bisa matang sempurna.

Lupis Mbah Satinem (Sejak 1963)

Mbah Satinem memulai jualannya di pasar sejak tahun 60-an.

Namun, namanya mendunia setelah dimunculkan dalam dokumenter Netflix.

Mbah Satinem selalu setia meracik lupis, gatot, dan tiwul secara tradisional di kawasan Jalan Diponegoro mulai pukul 05.30 WIB.

Jajanan Mbah Satinem ini dibanderol mulai harga Rp 10.000.

Selain itu, pembeli juga bisa melihat langsung ketelatenan Mbah Satinem dalam memotong lupis menggunakan benang.

Seni memotong menggunakan benang merupakan ciri khas yang digunakan Mbah Satinem supaya lupisnya tidak mudah hancur.

Mie Lethek Garuda (Sejak 1940)

Mie Lethek Garuda ini didirikan oleh seorang imigran asal Yaman, bernama Yasir.

Yasir pada awalnya terinspirasi mempunyai keinginan untuk menciptakan mie dengan bahan baku lokal seperti tepung tapioka atau singkong.

Oleh karena itu terciptalah resep Mie Lethek Garuda.

Nama “lethek” diambil karena warna mie yang dihasilkan cenderung kusam, karena tidak menggunakan pewarna atau zat pemutih.

Hingga saat ini, pabrik mienya di Bantul masih menggunakan tenaga sapi untuk proses penggilingan.

Kuliner ini dibuka mulai pukul 10.00 - 22.00 WIB dan dibanderol dengan harga mulai Rp 15.000. Kuliner ini membawa simbol kemandirian pangan Jogja sedari era kemerdekaan hingga saat ini.

Diimbau, ketika berkuliner ke tempat-tempat legendaris tersebut untuk membawa uang tunai yang pas.

Karena besar kemungkinan tempat kuliner tersebut belum menyediakan pembayaran secara digital. (Ahmad Yinfa Cendikia)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#PLESIRAN #kuliner legendaris #Yogyakarta #kota gudeg #Khas Yogyakarta #Cita Rasa Otentik