Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Satari, Sudah 50 Tahun Bekerja di Soto Kadipiro, dari Laden Kini Jadi Peracik Soto

Cintia Yuliani • Minggu, 28 Desember 2025 | 16:10 WIB

 

 

Rasa Kekeluargaan, Alasan Satari  Nyaman Setengah Abad Bekerja
Rasa Kekeluargaan, Alasan Satari Nyaman Setengah Abad Bekerja
 

Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan di balik kepulan kuah panas dan aromanya yang khas. Satari, 68, adalah satu di antara saksi hidup perjalanan panjang Soto Kadipiro.

Selama 50 tahun, ia setia bekerja di warung legendaris itu. Bukan sekadar tempat mencari nafkah. Baginya, Soto Kadipiro sudah seperti rumah kedua.

"Saya di sini sejak tahun 1975. Berarti sudah 50 tahun,” tuturnya saat ditemui di warung Soto Kadipiro.

Perjumpaan Satari dengan Soto Kadipiro bermula dari permintaan sang paman. Waktu itu, ia baru lulus SD dan bekerja serabutan di desa. Melanjutkan sekolah hampir mustahil, mengingat kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan.

“Awalnya disuruh pakde saya. Rumahnya di Godean, kebetulan dekat sama pemilik warung. Jadi diminta bantu tenaga, terus saya disuruh kerja di sini,” kenangnya.

Sejak 1975 itu, Satari tak pernah jauh dari warung. Pernah suatu waktu ia berhenti, sekitar dua bulan. Keputusan itu diambil karena ingin membantu orang tua di desa, sekitar tahun 1980-an. Namun, pemilik warung memintanya kembali.

Pada 1983, tepat saat gerhana matahari total, Satari menikah. Namun, kehidupan barunya tidak membuatnya meninggalkan Soto Kadipiro. Justru sejak itu ia semakin mantap bekerja hingga kini.

Soto Kadipiro
Soto Kadipiro

Selama lima dekade, Satari menyaksikan perubahan demi perubahan. Meski bangunan utama masih mempertahankan bentuk lama, warung kini sedikit lebih lebar. Area dapur yang dulu berada di sisi timur kini dipindah ke barat. Namun suasana kekeluargaan, katanya, tidak pernah berubah.

“Juragan baik, teman-teman juga baik. Makanya kerasan (nyaman, Red) rasanya sudah seperti keluarga sendiri,” katanya.

Dari posisi awal sebagai laden, Satari kemudian dipercaya meracik soto pada 2015. Keahliannya terasa dari gerak tangannya yang cekatan, menyusun isian dan menuang kuah panas tanpa ragu. Baginya, meracik soto bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari hidup.

Suka duka sudah dilewati. Yang paling membuatnya bertahan adalah hubungan hangat dengan sesama pekerja dan pemilik warung. “Senang, soalnya teman-teman di sini baik-baik,” ucapnya.

Setengah abad bekerja di satu tempat adalah kisah kesetiaan yang tidak semua orang sanggup menjalaninya. Bagi Satari, Soto Kadipiro bukan hanya warung makan legendaris, tetapi tempat tumbuh, bekerja, dan menemukan keluarga dalam arti yang lain. (cin/laz) 

 

Editor : Heru Pratomo
#soto #Godean #kekeluargaan #nyaman bekerja #setengah abad #saksi hidup #Laden #Soto Kadipiro #Warung Legendaris