Di tengah perubahan zaman dan maraknya modernisasi layanan digital, Soto Kadipiro tetap memilih berjalan dengan cara sendiri. Warung legendaris yang berdiri sejak 1928 itu mempertahankan ciri khas, baik dari rasa, bangunan, hingga budaya pelayanan.
Kendati demikian, bukan berarti tak beradaptasi. Bagi pemilik generasi ketiga Hendy Suharli, adaptasi dilakukan tanpa mengubah ciri khas sejak awal berdiri.
"Untuk menghadapi masa modern ini, cuma masalah pembayaran. Walaupun sekarang zamannya transfer, zamannya QRIS, kita tetap pakai uang kartal. Itu saya jadikan ciri khas kami," ungkap pemilik warung Soto Kadipiro yang berusia 50 itu saat ditemui Radar Jogja di Warung Soto Kadipiro, Sabtu (22/11).
Ia menilai, pelanggan justru menghargai konsistensi itu. Banyak warung memang sudah beralih ke sistem digital. Namun, menurutnya, tidak ada masalah jika Soto Kadipiro tetap setia pada cara lama.
Dari segi rasa maupun pelayanan, Hendy memastikan tak banyak berubah sejak era kakeknya maupun orang tuanya. Prinsipnya sederhana, dari dulu mereka mengedepankan prinsip bersih, sopan santun, dan penuh senyum.
Ciri khas itulah yang, menurutnya, menjadi salah satu cara agar Soto Kadipiro tetap eksis sampai sekarang, walaupun zaman semakin modern.
Meski begitu, kesetiaan pada uang tunai kerap membuat pengunjung lupa membawa uang cash. Situasi itu bukan hal baru bagi Hendy. "Kalau belum bawa uang, kita sarankan ke Pom Bensin Kadipiro, ada ATM 50 meter dari sini ke arah barat,” sarannya.
Bahkan jika pelanggan sedang terburu-buru, solusinya tetap sederhana. Mereka diperbolehkan membayar saat kembali berkunjung ke Soto Kadipiro.
Hendy menegaskan, tidak ada inovasi besar yang membuat Soto Kadipiro tampak berbeda dibanding masa lalu. Bangunan pun dipertahankan sebagaimana bentuk aslinya. "Bentuknya seperti ini, ya sudah. Malah kami pertahankan untuk jadi image kami,” katanya.
Soal daya tarik, ia menyebut bukan gimmick atau dekorasi yang membuat warung ini bertahan berpuluh-puluh tahun, melainkan sejarah dan rasa.
“Legend-nya itu ya karena kita udah lama. Rasa kami beda dengan yang lain. Kita juga enggak akan menyamai mereka (soto lainnya, Red),” jelasnya.
Soto Kadipiro juga dikenal menjadi jujugan banyak pejabat dan artis sejak era pendiriannya. Namun Hendy tidak memajang foto mereka secara berlebihan. Di dinding hanya terpampang potret bersama Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ketika itu.
"Kalau semua dipasang, nanti yang mau pasang kalender (untuk iklan, Red) enggak ada space-nya. Dan itu yang pasang kalender di sini enggak kami pungut biaya. Silakan saja,” ujarnya.
Bagi Hendy, salah satu pejabat paling berkesan adalah JK. Ia masih ingat betul momen kunjungan JK jelang Pilpres 2014. Saat itu, warung harus disterilkan. JK datang setelah berkunjung ke Keraton Jogja dan menyantap dua mangkuk soto.
"Waktu itu juga ada Pak Anies Baswedan dan banyak pejabat lain,” kenangnya.
Tak hanya pelanggan, karyawan pun menjadi bagian penting dari perjalanan Soto Kadipiro. Dua di antaranya merupakan pegawai paling lama, bekerja sejak 1975 hingga kini dan sebagian lain dari generasi lebih muda, kelahiran 1986.
Menurut Hendy, para karyawan bertahan karena suasana kekeluargaan yang selalu dijaga. Ia menuturkan mereka diperlakukan sebagai partner, bukan bawahan.
Hubungan yang terbangun pun layaknya keluarga sendiri, sehingga membuat para pegawai merasa nyaman dan tetap setia bekerja hingga puluhan tahun.
Warung ini juga jarang mengganti karyawan. Selain menjaga kualitas pelayanan, hal itu membuat komunikasi lebih efisien.
"Kalau ganti-ganti itu malah bikin capek mulut. Kalau orangnya itu-itu saja, kita cukup sekali memberitahu,” jelasnya.
Karyawannya berasal dari berbagai daerah, tak hanya Jogjakarta. Bahkan ada yang setiap hari pulang-pergi dari Magelang. (cin/laz)
Editor : Heru Pratomo