RADAR JOGJA - Yogyakarta bukan hanya tentang wisata alam dan budaya, tetapi juga surga tak berujung bagi penikmat kuliner.
Jogja menyimpan harta karun berupa aneka kuliner lezat, mulai dari jajanan unik, masakan Indonesia, hingga makanan khas yang melegenda.
Dengan cita rasa manis, gurih, dan pedas yang beragam, Kota Gudeg siap menjamin nafsu makan anda melambung lebih tinggi.
Jika anda berencana singgah atau sudah siap menjelajahi surga kuliner ini, anda berada di tempat yang tepat.
Simak rekomendasi wisata kuliner Jogja yang paling enak dan legendaris!
1. The House Of Raminten
The House of Raminten adalah salah satu destinasi kuliner unik di Yogyakarta dengan nuansa tradisional Jawa yang kental.
Tempat ini terkenal dengan konsepnya yang khas.
Mulai dari interior yang didominasi oleh dekorasi Jawa hingga menu makanannya yang lezat.
Tempat ini menghadirkan suasana yang eksotis dengan alunan musik gamelan serta pelayanan yang mengenakan pakaian adat, sehingga membuat pengunjung merasa seperti berada di rumah khas Jawa tempo dulu.
Daya tarik utama The House of Raminten tidak hanya terletak pada suasananya, tetapi juga pada sajian menu yang beragam dan terjangkau.
Restoran ini menyajikan berbagai hidangan khas Yogyakarta seperti nasi kucing, wedang serai, dan tahu bola, yang disajikan dengan cara unik dan penuh cita rasa.
Selain itu, porsinya yang pas dan harga yang ramah di kantong menjadikan tempat ini favorit bagi wisatawan maupun masyarakat lokal yang ingin menikmati kuliner tradisional dalam suasana yang berbeda.
Selain makanan, The House of Raminten juga terkenal dengan konsep pelayanannya yang ramah dan unik.
Pengunjung akan disambut dengan keramahan khas Yogyakarta dan dapat menikmati pengalaman bersantap yang tidak tergesa-gesa.
Restoran ini representasi budaya yang menggabungkan cita rasa tradisional dengan konsep modern yang unik.
2. Lumpia Samijaya
Tempat Kuliner di Jogja yang wajib dikunjungi selanjutnya yaitu Lumpia Samijaya, Dikutip dari situspariwisata.jogjakota.go.id, kedai ini dinamai demikian karena gerobak jualan lumpia ini pertama kali menempati pelataran Toko Samijaya yang ada di Jalan Malioboro.
Hingga toko tersebut tutup, lumpia ini tak berpindah tempat.
Lumpia ini telah berdiri tahun 1970 silam, dan saat ini diteruskan oleh generasi kedua.
Meksi telah berdiri sejak puluhan tahun lalu, tetapi rasa lumpia di tempat ini tak pernah berubah, tetap enak dan sangat autentik.
Saking legendarisnya, makanan satu ini tak hanya diminati warga lokal saja.
Banyak juga wisatawan dari luar daerah maupun turis mancanegara yang penasaran mencicipi kuliner satu ini.
Berbeda dari lumpia yang dijual kebanyakan, lumpia di tempat ini disajikan dengan tambahan saus bawang putih yang telah dicampur bengkoang.
Tentu saja, rasanya menjadi istimewa, lebih naik level ketimbang lumpia pada umumnya.
Pembeli bisa memilih varian rasa, yakni isian ayam dan isian spesial yang ditambah dengan telur puyuh di dalamnya.
Harga yang ditawarkan untuk satu potong lumpia yang terjangkau, yakni mulai dari Rp 6.000 untuk isian spesial, dan Rp 5.000 untuk isian ayam.
Kedai lumpia ini berada tepat di sebelah Hotel Mutiara.
Tepatnya di Jalan Malioboro, Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pembeli bisa datang ke lokasi lumpia tersebut hanya dengan berjalan kaki dari Teras Malioboro 2 ke arah selatan kurang lebih sekitar 300 meter.
Gerobak lumpia tersebut berada di sisi kiri jalan. Sementara itu, kedai lumpia ini buka setiap hari, yakni mulai pukul 10.00 hingga pukul 18.00 WIB.
Di jam-jam tertentu, tempat ini sangat ramai. Sehingga, pembeli harus rela antre untuk menikmati kuliner satu ini.
3. Oseng Mercon Bu Narti
Yogyakarta memang terkenal dengan makanannya yang memiliki citarasa manis gurih.
Meski begitu, bukan berarti tidak ada kuliner khas Jogja yang memiliki rasa pedas yang membakar lidah.
Cobalah sesekali menjelajah Jalan Ahmad Dahlan atau kawasan sekitar PKU Muhammadiyah saat malam hari, maka akan ditemukan dereta warung tenda yang menjual kuliner khas Jogja yang siap membakar lidah para penikmatnya, Oseng-oseng Mercon.
Dari deretan warung oseng mercon, ada salah satu warung tenda yang merupakan pelopor munculnya makanan pedas ini, yaitu Warung Oseng Mercon Bu Narti.
Menurut si empu warung, ide membuat oseng mercon ini muncul ketika waktu idul adha, dirinya mendapatkan banyak koyoran sapi.
Bingung diolah apa, ia pun menjajal dimasak menggunakan cabai rawit.
Tidak disangka, banyak pembelinya yang menyukai masakan pedas ini.
Nama oseng-oseng mercon sendiri merupakan pemberian dari budayawan Emha Ainun Najib atau yang lebih dikenal sebagai Cak Nun.
Dulunya, warung makan ini sering dikunjungi para seniman dan budayawan dan mereka sering memperbincangkan pedasnya masakan Bu Narti seperti makan mercon.
Hingga saat ini, nama tersebut masih digunakan dan banyak orang yang menyebut oseng-oseng ini dengan oseng-oseng bledek (Halilintar).
Lokasi : Jl. KH. Akhmad Dahlan, Gang Purwodiningratan Yogyakarta. (depan eks kantor PP Muhammadiyah) buka jam 17.00 – 22.00 WIB.
4. Gudeg Pawon
Gudeg Pawon berlokasi di jalan Janturan, Warungbroto, Umbulharjo, Yogyakarta.
Warung ini menjadi fenomenal dan sudah berdiri sejak tahun 1958.
Gudeg Pawon awalnya dijual oleh sang pemilik yang bernama Bu Prapto Widarso berpindah-pindah mulai dari Gondomanan, terminal hingga pasar Sentul pada jam tiga dini hari dan para pelanggannya biasanya adalah penjual dan pembeli di pasar.
Namun, pada tahun 2000, karena semakin banyaknya konsumen gudeg miliknya bahkan banyak yang sengaja datang ke rumah Bu Prapto untuk membeli gudeg miliknya.
Sehingga beliau akhirnya memilih untuk berjualan di rumah saja tepatnya di dapur miliknya atau pawon dan kini warung tersebut telah diteruskan oleh sang anak Sumarwanto.
Baca Juga: Jelang Natal dan Tahun Baru, Reservasi Hotel di DIY Belum Naik Signifikan
Sangat unik memang menggunakan konsep dapur sebagai tempat berjualan.
Dimana penjual, pembeli, dan tungku masak berbaur jadi satu.
Anda bisa memilih makan gudeg ditempat maupun dibungkus untuk dibawa pulang ke rumah.
Berbicara tentang mengolah masakan disini juga masih menggunakan cara tradisional agar rasa gudeg tetap konsisten sejak berdiri, gudeg Pawon masih menggunakan kayu bakar yang kayunya sudah dikontrol oleh penjual kayu langganan pemilik warung.
Warung gudeg yang berlokasi di gang sempit ini menawarkan sensasi gudeg yang berbeda.
Gudeg yang kini populer adalah gudeng kering, hal ini karena gudeg kering bisa dibawa pergi hingga keluar kota karena bisa bertahan sampai 24 jam sementara gudeg basah tidak bisa bertahan lama.
Gudeg disini basah dan tidak legit, areh atau kuah gudeg yang terdiri dari santan dan blondo sedikit lebih banyak dan encer dan rasa nangkanya tidak terlalu manis.
Gudeg Pawon buka mulai dari jam 10 malam, tapi jangan salah dalam 2 jam saja gudeg disini sudah habis terjual.
Warung gudeg belum dibuka biasanya sudah banyak pengunjung yang mengantri, bahkan ada pelanggan gudeg yang menunggu mulai jam 8 supaya tidak kehabisan gudeg Pawon karena antrian di warung gudeg ini lumayan panjang.
5. Sate Klathak Pak Pong
Sate Klathak Pak Pong adalah salah satu kuliner legendaris yang berasal dari Yogyakarta, khususnya dari daerah Bantul.
Dikenal dengan cara penyajiannya yang unik, sate ini menggunakan tusukan besi atau jari-jari sepeda, berbeda dengan sate pada umumnya yang menggunakan tusukan bambu.
Keistimewaan lainnya terletak pada suara "klathak" yang dihasilkan saat sate dipanggang, memberikan ciri khas tersendiri.
Tradisi ini telah menjadi ikon kuliner yang sangat digemari oleh wisatawan dan masyarakat setempat.
Kini, tempat ini menjadi salah satu destinasi kuliner yang wajib dikunjungi bagi mereka yang ingin merasakan sensasi sate kambing dengan cara yang berbeda.
Dengan harga yang terjangkau dan cita rasa yang khas.
Bagi para wisatawan Sate Klathak Pak Pong tetap menjadi pilihan utama bagi banyak orang yang datang ke Yogyakarta.
Sate Klathak Pak Pong juga menyajikan berbagai menu olahan kambing lainnya seperti tengkleng, tongseng, dan nasi goreng kambing.
Tempat ini bukan hanya terletak pada cara memasak yang unik, tetapi juga pada rasanya yang beda dari yang lain.
Dengan suasana yang santai dan harga yang ramah di kantong, Sate Klathak Pak Pong terus menarik pengunjung dari berbagai kalangan.
Sate Klathak Pak Pong terletak di Jl. Sultan Agung No. 18, Jejeran II, Wonokromo, Pleret, Kabupaten Bantul.
Warung ini buka setiap hari mulai pukul 09.00-23.30 WIB.
Lokasinya cukup mudah dijangkau, hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota Yogyakarta, jadi para pengunjung tak perlu khawatir tersesat.
Warung ini juga buka sepanjang hari, dari pagi hingga malam, dan selalu ramai pengunjung.
Sate Klathak Pak Pong bisa dipastikan penuh dengan orang yang ingin menikmati hidangan khas Yogyakarta ini.
Dari House Of Raminten hingga Sate Klathak Pak Pong, berbagai kuliner diatas menunjukkan bahwa warisan rasa tempo dulu tetap eksis, menjadi daya tarik yang konsisten bagi pecinta kuliner.
Menikmati kuliner legendaris di Jogja bukan sekadar makan, tetapi juga menyelami budaya, tradisi, dan nostalgia yang terkandung dalam setiap hidangan. (Muhammad Aryo Witjaksono)
Editor : Meitika Candra Lantiva