Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bukan Menu Kuliner Biasa! Sayur Lodeh Dipercaya Sebagai Penolak Bala, Ini Dia Faktanya!

Magang Radar Jogja • Senin, 8 Desember 2025 | 18:46 WIB
Sayur Lodeh.
Sayur Lodeh.

RADAR JOGJA - Menurut tradisi Jawa, makanan tidak hanya sebagai pengisi perut saja, lebih dari itu makanan mempunyai makna filosofis yang berhubungan dengan kehidupan dan nilai spiritual.

Sebagai makanan sederhana yang mudah ditemukan di wilayah Yogyakarta, sayur lodeh menjadi bukti bahwa makanan dapat menyimpan beragam nilai budaya.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, sayur lodeh diyakini dapat menjadi media sebagai penolak bala atau bencana di suatu daerah.

Seperti yang terjadi pada masa pandemi Covid-19, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengimbau masyarakat Yogyakarta untuk memasak sayur lodeh sebagai wujud doa sekaligus simbol untuk mengusir pagebluk dari wilayah tersebut.

Bukan tanpa alasan langkah itu dilakukan, sebab sayur lodeh dipercaya mengandung tujuh bahan pokok yang masing-masing menyimpan arti spiritual.

Makna inilah yang membuatnya dianggap sebagai simbol tolak bala yang penuh nilai filosofis.

Bahan pertama adalah buah nangka muda atau kluwih, yang melambangkan ajakan untuk memperbanyak hal-hal baik dalam kehidupan.

Kedua, terdapat kacang panjang yang bermakna cang dicencang, yaitu pesan agar masyarakat tetap berada di rumah dan membatasi aktivitas di luar selama terjadi pagebluk.

Ketiga, terong yang memiliki filosofi tresno anggone panembah Gusti, menjadi simbol agar manusia tidak lupa berdoa dan senantiasa mengingat Tuhan Yang Maha Esa.

Selanjutnya ada kulit melinjo, simbol dari pikiran yang harus dijaga agar tetap positif dalam menghadapi musibah.

Kelima, waluh yang mengandung pesan nguwalono, ilangono, ngeluh, yakni imbauan agar kita tidak lagi selalu mengeluhkan keadaan.

Keenam, daun melinjo atau godong, yang menjadi tanda bahwa manusia harus senantiasa memohon ampun kepada Tuhan.

Terakhir, tempe yang dimaknai sebagai temonono pitulungane Gusti, yang bermakna doa supaya Tuhan menolong umat-Nya ketika menghadapi kesusahan.

Berbagai makna tersebut menjadikan sayur lodeh lebih dari sekadar hidangan, melainkan wujud ungkapan syukur, harapan, serta doa masyarakat Jawa dalam melewati masa sulit.

Terlepas dari ada atau tidaknya pembuktian ilmiah, makna budaya dan spiritual yang melekat pada sayur lodeh menjadi warisan berharga yang mencerminkan cara masyarakat memahami kehidupan lewat tradisi kuliner. (Desfina Citra)



Editor : Meitika Candra Lantiva
#sri sultan hamengkubuwono x #fakta #menu #kepercayaan #Budaya #Kuliner #simbol #Sayur Lodeh #masyarakat jawa #Nilai filosofis