Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jadah Manten, Nyamikan Khas Yogyakarta yang Sarat Makna dan Filosofi

Bahana. • Minggu, 2 November 2025 | 20:00 WIB

Jadah manten
Jadah manten
RADAR JOGJA - Di antara berbagai kuliner tradisional khas Yogyakarta, setiap hidangannya seolah punya cara tersendiri untuk menyisipkan makna dalam setiap gigitannya.

Salah satunya adalah jadah manten, nyamikan (kudapan) khas yang bukan hanya menggugah selera, tapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang cinta dan ikatan dua insan.

Jadah manten dulunya disajikan dalam acara pernikahan adat Jawa, khususnya sebagai bagian dari seserahan atau suguhan untuk pengantin.

Kata “manten” sendiri berarti pengantin, menegaskan peran simbolisnya dalam upacara sakral tersebut.

Jadah manten diyakini telah ada sejak masa kerajaan di Yogyakarta.

Tidak hanya disajikan dalam pernikahan, jadah manten juga menjadi lambang restu dan harapan agar pengantin senantiasa rukun dan tak mudah terpisahkan.

Jadah manten terbuat dari ketan putih yang direndam semalaman, dikukus bersama daun pandan untuk aroma, lalu dipadatkan menjadi lapisan dasar.

Di tengahnya terdapat isian gurih, biasanya ayam suwir atau daging sapi berbumbu bacem, yang kemudian dibungkus rapi dengan lapisan telur dadar tipis. Kemudian, Penyajiannya dijepit dengan tusuk sate.


Filosofi Cinta dan Kesetiaan

Nama “jadah manten” memiliki makna filosofis yang erat dengan kehidupan pernikahan. Tekstur ketan yang lengket dianggap sebagai simbol keterikatan dua orang yang tak mudah dipisahkan.

Sementara isian di dalamnya mencerminkan perbedaan rasa, ada manis, gurih, dan lembut layaknya dinamika dalam kehidupan rumah tangga yang tak selalu seragam, tapi justru saling melengkapi.

Dalam prosesi adat, jadah manten menjadi pengingat bahwa cinta sejati tidak selalu manis, melainkan hasil dari dua pribadi yang memilih untuk terus melekat meski dihadapkan pada perbedaan.

Seiring waktu, jadah manten tidak hanya hadir dalam upacara pernikahan. Kini, kudapan ini bisa ditemukan di beberapa toko oleh-oleh dan pasar tradisional di Yogyakarta.

Meski sudah jarang digunakan dalam seserahan, makna filosofisnya tetap hidup dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun generasi muda yang ingin mengenal sisi lain dari kuliner Jawa.

Banyak produsen makanan tradisional mencoba mempertahankan resep aslinya, sambil menyesuaikan dengan selera masa kini. Ada versi jadah manten dengan isian ayam pedas, rendang, hingga varian vegetarian. Namun satu hal yang tetap dipertahankan adalah makna melekatnya.

Penulis: Ayu Andayani Saputri
Sumber: berbagai sumber

Editor : Bahana.
#jadah manten