Mulai dari jagung, ubi, hingga pisang. Semuanya tidak diolah secara khusus dan hanya dikukus saja sehingga dinilai lebih sehat.
Salah satu penjualnya adalah Kindi Cahya. Lewat merek bernama Dapur Tante Kukusan Polo Pendem Prasmanan, Kindi menawarkan harga mulai Rp 1000 hingga Rp 5000.
Kemasan untuk makanan ini juga lebih modern karena menggunakan stirofoam yang ditempeli stiker. Tidak seperti pedagang kaki lima keliling yang umumnya menggunakan plastik keresek.
Pemilik usaha kukusan di Purwomartani, Kapanewon Kalasan ini mengaku awalnya berjualan di bidang fesyen. Namun, mengalami penurunan karena banyaknya persaingan.
"Terus cari ide untuk usaha lain. Jual kukusan ternyata cuan juga," terang Kindi ditemui digerainya, Jumat (31/10).
Usaha yang dibuka baru sekitar sebulan lalu ini ternyata bisa memberi penghasilan lumayan. Dalam sehari bisa mencapai Rp 400 ribu sampai Rp 700 ribu.
Kindi bercerita, kuncinya bukan hanya menjual makanan kukusan biasa yang dinilai sehat.
Akan tetapi, menghadirkan bahan makanan yang dinilai langka ditemukan, seperti garut, ganyong, uwi, suweg, hingga jagung ketan.
"Kalau dulu yang jual pakai gerobak hanya kacang, kedelai, dan jagung. Ini versi modernnya lebih lengkap. Kami juga ada telur omega," tambahnya.
Kindi bercerita, selalu mengusahakan bahan makanan yang langka dan sulit dicari itu bisa dihadirkan di gerainya.
Variasi yang banyak ini menjadi daya tarik tersendiri. Khususnya bagi mereka yang penasaran ingin mencoba.
Startegi lain yang digunakan untuk meningkatkan penjualan adalah promosi lewat media sosial. Khususnya platform TikTok.
Dia bercerita bahwa awal berjualan belum banyak pembeli. Namun, usai disebar di media sosial, gerainya mulai ramai. Rencananya dia juga ingin menambah gerai baru untuk menjual makanan kukusan ini.
"Apalagi kalau menurut saya di Jogja ini belum sebanyak itu. Pembelinya itu campur, ada anak muda, ibu-ibu, sampai anak-anak buat bekal sekolah," terangnya. (del)
Editor : Bahana.