RADARJOGJA – Pasar Ngasem, salah satu pasar tertua di Yogyakarta, kini menjadi destinasi wisata budaya dan kuliner yang ramai dikunjungi wisatawan.
Terletak di kawasan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, pasar ini menawarkan pengalaman khas yang memadukan unsur sejarah, kuliner tradisional, dan suasana pasar rakyat yang autentik.
Pasar Ngasem telah berdiri sejak abad ke-19 dan dikenal sebagai pasar burung tertua di Yogyakarta.
Dulu, pasar ini menjadi pusat jual beli burung dan hewan peliharaan bagi warga lokal maupun kolektor dari luar daerah.
Namun, sejak tahun 2010, Pemerintah Kota Yogyakarta memindahkan aktivitas jual beli burung ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) di Jalan Bantul, sebagai bagian dari upaya penataan kawasan wisata Taman Sari dan pelestarian lingkungan.
Kini, kawasan Pasar Ngasem beralih fungsi menjadi pasar umum yang menjual berbagai kebutuhan harian, kuliner tradisional, dan cenderamata khas Yogyakarta.
Di pasar ini, pengunjung dapat menemukan berbagai makanan tradisional seperti gudeg, serabi kuah, tiwul, apem, wedang jahe, hingga kue kipo.
Harga makanan di Pasar Ngasem juga tergolong terjangkau, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per porsi.
Beberapa warung legendaris, seperti Warung Makan Yu Ngademi, menjadi favorit wisatawan karena menyajikan menu khas seperti bubur krecek, oseng genjer, dan brongkos dengan cita rasa rumahan yang kuat.
Pasar Ngasem berlokasi di Jalan Polowijan Nomor 11, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, hanya berjarak sekitar 500 meter dari Taman Sari.
Akses menuju lokasi ini sangat mudah, bisa ditempuh sekitar 15 menit dari Malioboro menggunakan kendaraan pribadi atau becak wisata.
Keunikan Pasar Ngasem tidak hanya pada aspek ekonominya, tetapi juga nilai sejarah dan budayanya.
Letaknya yang berada di kawasan Keraton membuat pasar ini menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta.
Suasana klasik, aroma jajanan pasar, dan keramahan pedagang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan atmosfer pasar tradisional yang sesungguhnya.
Penulis: Ni Made Shinta Apriliayani