Warung Bakmi Jawa Pak Pele, yang berlokasi di Alun-Alun Utara Yogyakarta, dikenal sebagai destinasi kuliner malam yang wajib dikunjungi.
Pemilik warung ini adalah Suharjiman, atau akrab disapa Pak Pele, yang mulai merintis usaha bakmi sejak tahun 1983.
Awalnya ia bekerja di PT Punokawan sebelum memutuskan untuk berjualan bakmi sebagai mata pencaharian baru.
Nama “Pak Pele” sendiri diadopsinya terinspirasi dari kecintaannya terhadap dunia sepak bola, khususnya legenda Brasil, Pele. Selain itu, ia juga pernah bermain bola sehingga nama tersebut terasa sangat personal.
Salah satu daya tarik utama warung ini adalah cara memasak tradisional dengan tungku arang (anglo), serta proses memasak satu per satu (per porsi) untuk menjaga keaslian rasa.
Teknik ini memang memerlukan waktu lebih lama, namun dianggap menjaga kualitas dan aroma khas bakmi Jawa.
Untuk menambah cita rasa gurih, Bakmi Pak Pele menggunakan kombinasi mie kuning dan bihun putih, serta menggunakan telur bebek dan daging ayam kampung.
Menu tambahan seperti rica-rica ayam, capcay, magelangan, serta nasi goreng juga tersedia sebagai variasi pilihan.
Dari sisi harga, porsi bakmi dijual dengan kisaran yang relatif terjangkau, umumnya di angka Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per porsi.
Menurut resep dan review kuliner, harga tersebut dinilai sepadan dengan rasa dan pengalaman yang ditawarkan.
Namun, karena popularitasnya cukup tinggi, seringkali pengunjung harus bersabar menunggu.
Beberapa testimoni menyebut bahwa waktu tunggu bisa mencapai 30 menit atau lebih terutama saat warung sedang penuh ramai.
Reputasi Bakmi Pak Pele semakin mencuat setelah kedatangan Presiden Joko Widodo bersama keluarganya.
Pada malam 1 Juni 2023, Jokowi memesan lebih dari 100 porsi dan membayar sekitar Rp 3 juta untuk seluruh pesanan. Kehadiran presiden ini membuat warung tersebut menjadi perbincangan publik.
Bakmi Jawa Pak Pele tetap bertahan sebagai ikon kuliner malam di Yogyakarta.
Bagi banyak orang—baik warga lokal maupun wisatawan—menikmati semangkuk bakmi di warung ini adalah pengalaman rasa dan nostalgia yang sulit dilupakan.
Untuk pencinta kuliner ala Jawa, warung ini tetap menjadi salah satu rekomendasi wajib saat malam tiba di Jogja.
Penulis: Adella Haviza
Editor : Bahana.