Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gudeg, Jejak Kuliner Mataram yang Menjadi Identitas Yogyakarta

Bahana. • Selasa, 7 Oktober 2025 | 18:43 WIB
Ilustrasi gudeg
Ilustrasi gudeg

RADAR JOGJA- Gudeg, hidangan khas Yogyakarta yang identik dengan rasa manis gurih, tidak muncul begitu saja ia lahir dari sejarah panjang masyarakat Jawa.

Dari berbagai penelitian dan catatan tradisional, gudeg sudah dikenal sejak masa sebelum berdirinya Kesultanan Yogyakarta, bahkan dikaitkan dengan zaman Kerajaan Mataram.

Menurut buku Makanan Tradisional Indonesia Seri 2 karya Murdijati Gardjito dan rekannya, gudeg konon sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam.

Saat itu, kawasan Alas Mentaok yang kini menjadi Kotagede, Yogyakarta, tengah dibabat untuk pembangunan keraton. Karena di lahan itu tumbuh banyak pohon nangka muda, kelapa, dan melinjo, bahan-bahan tersebut kemudian diolah menjadi gudeg.

Versi sejarah menyebut bahwa prajurit Mataram yang sedang membabat Alas Mentaok menggunakan bahan lokal yang melimpah untuk memasak makanan yang ekonomis dan bergizi.

Mereka mengolah nangka muda (gori), santan, dan bumbu rempah menjadi semacam rebusan panjang. Proses pengadukan terus-menerus (dalam bahasa Jawa “hangudeg”) diyakini menjadi asal kata gudeg.

Di dalam literatur Jawa klasik seperti Serat Centhini, terdapat kisah bahwa pada abad ke-16 atau ke-17, gudeg sudah dikenal sebagai salah satu hidangan yang disajikan dalam perjamuan.

Dalam cerita itu, Raden Mas Cebolang mengunjungi Pangeran Tembayat di Klaten dan disuguhi gudeg sebagai salah satu menu jamuan.

Seiring waktu, gudeg mulai berkembang dari hidangan lokal menjadi simbol kuliner Yogyakarta.

Pada abad ke-19 dan era kolonial Belanda, gudeg sudah dikenal luas sebagai makanan khas Jogja, meskipun pada masa itu produksi dan distribusinya masih terbatas.

Perkembangan modern membawa inovasi dalam jenis gudeg. Awalnya, jenis gudeg yang dikenal adalah gudeg basah dengan banyak kuah santan. Namun, sekitar enam dasawarsa lalu muncul gudeg kering, yang menggunakan lebih sedikit santan sehingga lebih awet dan cocok untuk dijadikan oleh-oleh.

Gudeg tidak sekadar makanan rakyat di lingkungan keraton Yogyakarta juga gudeg pernah disajikan dalam jamuan kerajaan sebagai bagian dari sajian istimewa.

Hal ini menunjukkan bahwa cita rasa dan statusnya telah menembus berbagai lapisan masyarakat.

Dari segi ekonomi dan budaya, gudeg kini menjadi salah satu ikon kuliner pariwisata Yogyakarta.

Hingga kini, gudeg tetap digemari oleh warga lokal maupun wisatawan. Baik versi basah maupun kering tetap eksis dan terus dikembangkan.

Melalui kuliner ini, sejarah, tradisi, cita rasa, dan kreativitas masyarakat Yogyakarta berpadu menjadi satu menjadikan gudeg bukan sekadar lauk, tapi cerminan sejarah Jogja yang lestari.

Penulis: Adella Haviza

Editor : Bahana.
#Yogyakarta #gudeg #Jogja