Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Adha Dewi Prihantini; Dulu Pemalu dan Tak Bisa Masak Kini Juragan Adrem alias Tolpit di Bantul, Punya Enam Karyawan, Laris saat Lebaran dan Sura

Cintia Yuliani • Senin, 14 Juli 2025 | 03:59 WIB

 

BERANI MENCOBA: Adha Dewi Prihantini sedang memegang adrem produk olahannya di tempat produksi Padukuhan Piring, Murtigading, Sanden, Bantul, Minggu (14/7/2025).
BERANI MENCOBA: Adha Dewi Prihantini sedang memegang adrem produk olahannya di tempat produksi Padukuhan Piring, Murtigading, Sanden, Bantul, Minggu (14/7/2025).
BANTUL - Dari pelatihan yang diadakan di kalurahan, bisa mengubah hidup ibu rumah tangga asal Padukuhan Piring, Kalurahan Murtigading, Kapanewon Sanden, ini.

Adha Dewi Prihantini yang dulunya tak punya dasar ilmu membuat olahan makanan, kini sukses memproduksi adrem alias tolpit, camilan khas Bantul.

Dewi kini menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sukses di desanya.

Dari usaha yang ia rintis sejak 2015 itu, Dewi kini bisa mempekerjakan karyawan dan meraih omzet jutaan rupiah per hari.

"Dulu saya ini nggak suka masak. Apalagi adrem, malah makanan itu saya nggak doyan.

Tapi rezekinya ternyata justru di situ," kata perempuan berusia 38 tahun ini saat ditemui di rumahnya, Minggu (13/7/2025).

Perjalanan Dewi bermula dari pelatihan produk unggulan yang diadakan oleh Kalurahan Piring 10 tahun lalu.

Saat itu setiap kalurahan diminta membuat produk khas, dan kalurahannya ditugasi membuat adrem.

Dari 20 peserta pelatihan, kini tinggal empat orang yang masih bertahan, salah satunya Dewi, yang waktu itu justru jadi peserta termuda.

Ia juga mengaku sama sekali tidak punya latar belakang berjualan. Apalagi memasak.

Namun dorongan untuk memperbaiki kondisi rumah tangga dan niat kuat untuk mandiri, membuatnya nekat mencoba. Dulu bahkan rumahnya belum sebagus sekarang.

Belum ada pintu, jendela. Lantai pun masih plesteran dan belum berkeramik. Ukuran rumahnya juga belum sebesar sekarang.

Berkat kegigihannya ia bisa mengubah nasib. Sekarang rumahnya sudah direnovasi dan layak huni. Perlahan rumahnya diperbesar, bahkan sekarang ia mempunyai mobil.

"Dulu Suami saya kerja di bengkel, gajinya sebulan cuma Rp 1 juta. Ddulu awal merintis saya pakai uang dapur buat beli bahan sedikit-sedikit,” ungkapnya.

Dewi memulai dari nol, bahkan harus membagi waktu mengurus anak yang pada saat itu masih kecil, mengurus jualan, dan mengurus pekerjaan rumah tangga.

Ia masih ingat betul setiap hari harus begadang mempersiapkan adonan. Bahkan sempat dua kali kelupaan dan adonannya gosong karena ketiduran.

Tapi semua itu tak membuatnya menyerah. "Saya juga pernah kena minyak sampai kakinya melepuh," tuturnya.

Perjuangannya berbuah manis. Dari yang awalnya hanya membuat 1 kg, kini dalam sehari bisa menghabiskan 30 kg adonan. Itu berarti sekitar 1.800 potong adrem per hari.

Satu pak dihargai Rp 7.500 hingga Rp 60 ribu, tergantung isi dan kemasan.

Dalam satu hari di hari biasa, omzet kotornya bisa mencapai Rp 2 juta. Jika dihitung dalam satu bulan pendapatannya lebih Rp 60 juta.

Kini Dewi memiliki enam karyawan tetap, semuanya warga sekitar. Saat musim ramai seperti Lebaran atau bulan Sura, ia bahkan harus menambah tenaga kerja dan tetap kewalahan memenuhi pesanan. Otomatis pendapatannya bisa lebih banyak dari hari-hari biasa.

Ia juga memanfaatkan media digital untuk memasarkan produk olahannya.

Pemasaran dilakukan lewat berbagai cara, dari mulut ke mulut, hingga platform online seperti Tokopedia, Facebook, Instagram, dan TikTok.

Bahkan adrem produksinya pernah dipesan ke luar daerah seperti Bandung, Medan, dan Kalimantan.

Selain terus beradaptasi dengan perubahan zaman, Dewi juga melakukan inovasi dari produk yang dibuatnya.

Dulunya hanya menjual adrem dengan rasa original, sekarang ia berinovasi membuat adrem dengan berbagai varian rasa seperti stoberi, durian, dan pandan.

"Inovasinya itu adremnya ditambah perwarna makanan dari berbagai rasa. Itu buat menarik pasar anak muda juga,” jelas ibu dua anak ini.

Untuk menarik dan mengenalkan produknya kepada konsumen, dari awal ia menjalankan produknya, ia sudah memiliki nama brand yang diberi nama "Adrem Mbak Dewi".

Dari tempat produksinya, ia juga rutin menerima kunjungan studi banding dari berbagai daerah.

Bahkan rombongan wisatawan kadang mampir langsung untuk mencoba dan membeli produknya. Ia juga beberapa kali mendapat undangan diklat UMKM dari dinas-dinas terkait.

Mengenang masa lalu, Dewi hanya bisa bersyukur. Dari seorang perempuan pendiam, pemalu, dan tak percaya diri, kini ia menjadi pengusaha tangguh yang dikenal banyak orang.

"Dulu saya nggak bisa jualan, ngomong aja malu. Tapi ternyata karena sering bertemu orang, jadi terbiasa. Sekarang malah cerewet,” katanya.

Melihat usahanya semakin berkembang, ia menambah olahan lainnya untuk dijual yakni sagon. Produk sagon yang dibuatnya pun hasil dari pelatihan yang diadakan di kalurahannya.

Selain itu, ia juga menjual berbagai cemilan lain agar dapat lebih menarik minat konsumen.

Bagi Dewi, modal terbesar bukanlah uang, melainkan niat dan keberanian untuk mencoba. Menurutnya, jika menunggu bisa dulu tidak akan pernah jalan.

"Saya dulu pun nggak tahu caranya, tapi karena mau belajar, akhirnya bisa," ungkapnya. (cr2/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Tolpit #makanan #sanden #sagon #Cemilan #penganan #Kapanewon Sanden #Bantul #Kalurahan Murtigading #Adrem #Adha Dewi Prihantini #Padukuhan Piring #UMKM #makanan khas bantul #sanden bantul #omzet