GUNUNGKIDUL - Di bawah sengatan matahari pagi Dusun Getas, Kapanewon Playen, Gunungkidul, seorang perempuan sepuh tampak membolak-balik irisan singkong di halaman rumahnya.
Ia adalah Mbah Saminten, satu dari sedikit penjaga tradisi pengolahan gaplek dan tiwul. Dua makanan lokal khas Gunungkidul yang dulu menyelamatkan warga dari kelaparan saat paceklik melanda.
Sejak medio 1960-an, saat masih menjadi bocah yang kerap ikut orang tua ke ladang, hingga kini berusia 74 tahun, Mbah Saminten sudah akrab dengan proses pembuatan gaplek. Tak pernah benar-benar diajarkan oleh orang tuanya, ia belajar hanya dari pengamatan.
Dari mata turun ke hati, lalu ke tangan. Gaplek dan tiwul menjadi bagian dari hidupnya sejak saat itu dan terus dijaganya hingga kini.“Saya tak pernah mengajarkan ke anak-anak, tapi saya contohkan. Mereka meniru,” ujarnya sembari tersenyum, tangannya tetap lincah membolak-balikkan singkong pada Jumat, (4/7/2025).
Mbah Saminten mengenang kala ia masih belia. Waktu dahulu datang musim kemarau atau mangsa ketiga tiba, beras nyaris tak terjangkau warga Gunungkidul. Dalam keterbatasan itu, gaplek dan tiwul menjadi sandaran hidup.
Potongan singkong yang dikeringkan itulah yang kemudian tumbuk menjadi tepung dan diolah menjadi tiwul. Rasanya sederhana, namun kaya kenangan dan sejarah.
Sebagai makanan pokok kala pagebluk pangan, bagi Mbah Saminten, tiwul bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol ketangguhan, solidaritas, dan kehangatan keluarga.
Saat paceklik dan pagebluk datang, ketika semua terasa serba kekurangan, tiwul hadir sebagai penyelamat. “Paceklik, pagebluk itu, kita gak punya apa-apa untuk dimakan, adanya tiwul,” kenangnya.
Meski kini kehidupan telah lebih baik dan beras tersedia melimpah, Mbah Saminten tak pernah benar-benar meninggalkan tiwul. Ketika kemarau datang, ia akan kembali membuat gaplek.
Proses panjang dari kupasan singkong yang dijemur, digiling, hingga menjadi makanan siap santap tak pernah terasa membosankan. Justru, itulah saat-saat yang ia tunggu.
Tradisi ini menular diam-diam dari generasi ke generasi. Sikap gigih dan kecintaannya terhadap tiwul rupanya menular secara alami kepada generasi berikutnya. Endang Suryati, anak bungsu Mbah Saminten, kini juga rutin membuat tiwul ketika musim kemarau tiba.
Persis seperti ibunya dulu, ia pun belajar hanya dari melihat, bukan diajari. “Saya enggak pernah diajari, tapi karena dari kecil sering lihat dan bantu, jadi tahu sendiri,” ungkap Endang yang sehari-hari mengajar di salah satu TK di Kalurahan Getas.
Perempuan 47 tahun itu kini rutin menyetok tepung gaplek dalam jumlah besar setiap tahun. Bahkan ia tahu cara penyimpanan agar awet hingga berbulan-bulan. Di sela-sela kesibukannya mengajar, ia tetap menyempatkan diri menjemur singkong, menggiling gaplek, dan mengolahnya menjadi tiwul.
Bagi Endang, tiwul bukan hanya warisan kuliner, tetapi juga identitas dan rasa bangga. Ia pun merasa senang saat anaknya mulai menunjukkan ketertarikan yang sama mengamati saat simbah dan ibunya bekerja di halaman rumah dengan bahan-bahan lokal yang sederhana.
Tak hanya menjadi simbol ketahanan pangan, bagi keluarga Mbah Saminten, tiwul juga menjadi perekat hubungan keluarga. Saat tiwul selesai diolah, keluarga akan berkumpul untuk sambelan makan tiwul dengan sambel kroes dan daun singkong.
Tak ada hidangan mewah, hanya kebersamaan yang mengenyangkan.“Beginilah kehidupan di desa. Kumpul keluarga tak harus bermewah-mewah,” ujar Mbah Saminten, lembut namun tegas.
Kini, saat makanan modern datang silih berganti dan budaya instan merasuk ke pelosok desa, Mbah Saminten tetap teguh menjaga warisan itu. Ia tak ingin tiwul hilang ditelan zaman. Lewat contoh dan ketelatenan, ia menanamkan pada anak dan cucunya, bahwa kadang masa depan justru bisa diselamatkan oleh yang paling sederhana dari masa lalu.
Tiwul lebih dari Sekadar Makanan. Di tangan Mbah Saminten dan keluarga, tiwul bukan hanya penunda lapar. Ia adalah ingatan, identitas masyarakat desa dan cinta yang diwariskan lintas generasi. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo