Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menilik Brongkos Handayani di Alun-Alun Kidul, Setengah Abad Jadi Jujukan Kuliner Njeron Beteng

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 26 Januari 2025 | 16:00 WIB

 

LEGEND: Pemilik Warung Brongkos Handayani Tri Suparmi saat meladeni para pelanggan. Tempat makan ini akan segera berpindah menyusul uji coba penutupan Plengkung Gading.
LEGEND: Pemilik Warung Brongkos Handayani Tri Suparmi saat meladeni para pelanggan. Tempat makan ini akan segera berpindah menyusul uji coba penutupan Plengkung Gading.
 

 

RADAR JOGJA - Siapa yang tak mengenal Warung Brongkos Handayani. Tempat makan yang berada di area Alun-Alun Kidul ini sudah menjadi jujukan kuliner favorit Njeron Beteng Keraton Ngayogyakarta sejak lima puluh tahun silam.

Warung makan sederhana ini tepat berdiri pada 1975. Luas bangunannya tidak lebih dari 10 meter persegi. Karena kemasyhurannya, warung ini memiliki lima karyawan. Tidak hanya sibuk memasak, namun juga meladeni pelanggan yang selalu memadati area warung.

Operasional warung kini dilanjutkan oleh Tri Suparmi. Dia adalah generasi kedua. Melanjutkan warisan orang tuanya Sadiyem dan Adiyosono.

Sebelum menjual brongkos, orang tuanya sempat menjual es campur dan pecel gendong. "Brongkos itu makanan kesukaan Sri Sultan ke IX, jadi makanan khas Jogja bukan hanya gudeg," lontarnya.

Meskipun hanya meneruskan usaha, dia tetap berkomitmen untuk menjaga cita rasa. Sebab, pesan orang tuanya adalah untuk tidak mengurangi takaran bumbu. Meskipun bahan yang digunakan mahal dan keuntungan minim. Sebab ada 15 macam bumbu yang dibuat untuk resep brongkos. "Ada pembeli yang sudah belasan tahun enggak ke sini, terus ke sini katanya rasanya sama seperti dulu," jelasnya.

Menyoal akan ditatanya pedagang di area Plengkung Gading, Tri tidak mempersoalkannya. Sebab selama ini, dia sudah diberikan izin untuk menggunakan tanah magersari. Selam itu pula, dia menggunakan tanah tersebut dengan sistem sewa. Setiap tahun, dia membayar Rp 200 ribu kepada Keraton Jogja melalui Kantor Panitikismo.
"Sertifikat kekancingan dari Keraton Jogja sampai saat ini kami juga masih menyimpannya, cuma saya kurang paham karena tulisannya aksara Jawa," tuturnya.

 

Namun sejak 2015, Panitikismo tidak lagi mau menerima uang sewa tahunan. Mulai saat itu, dia telah bersiap jika suatu waktu akan berpindah karena tanah akan digunakan Keraton. "Puluhan tahun sudah diizinkan jualan di sini itu sudah Alhamdulilah," bebernya.

Kini, dia mulai berencana untuk berpindah ke sekitar Jalan Bugisan. Sebab lokasinya tak terlalu jauh dari Alun-Alun Kidul. Pun lebih dekat dengan tempat tinggalnya. (oso/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#bumbu #Kuliner Favorit #Warung Brongkos Handayani #Keraton #kekancingan #Plengkung Gading #Gunungkidul #Area #jujukan #Keraton Ngayogyakarta #Handayani #harga #alun-alun kidul #brongkos #warung #sewa #njeron beteng #magersari #tanah