RADAR JOGJA - Ingin menaikkan kelas minuman rempah. Terinspirasi dari strategi diplomasi Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang menciptakan bir jawa, Andriyanto Soeristo Soerahmad menciptakan sirup jahe dan secang dengan merek Yang Ti. Bahkan sudah mengembangkan Omben-Omben Secanglatte.
"Dulu Sultan HB VIII memerintahkan membuat minuman yang disebut sebagai bir Jawa. Minuman tersebut merupakan bentuk penyesuaian keraton dengan kebiasaan masyarakat Eropa pada umumnya gemar bersulang dengan meminum alkohol," kata Andriyanto, Senin (28/10).
Bir Jawa tidak mengandung alkohol, namun dari segi penampilan berwarna merah alamiah rempah-rempah. Bukannya memabukkan tapi justru memiliki nilai manfaat karena seperti minum jamu. Menyehatkan dan dapat menghangatkan badan. Bir Jawa terbuat dari pohon secang dan rempah-rempah sereh, jahe, akar-akaran dan sebagainya.
Bir ini juga sekaligus menjadi samaran dari minuman anggur merah, sebab warnanya yang merah seperti minuman anggur merah. "Yang ternyata karena berasal dari rempah-rempah ada khasiatnya untuk kesehatan," ungkapnya.
Berada di lower ground Pasar Oleh-Oleh Plaza Ambarukmo Jogja, kreasi Omben-Omben Secanglatte terlihat berbeda. Karena dengan sajian yang kekinian tapi menggunakan bahan-bahan tradisional. Juga berbeda karena disajikan dalam bentuk sirup. Disiapkan dalam bentuk botol dan cup. "Melalui Yang Ti ini kami sajikan sirup jahe dan secang," tuturnya. "Merek Yang Ti ini untuk mengingatkan racikan minuman rempah ibu saya, eyang puteri."
Pilihannya membuat sirup secang dan jahe sejak 2017 juga didasari pengalamannya sering dibuatkan minuman tersebut oleh ibunya. Tapi dirasakan ribet karena harus membersihkan, mengupas hingga mencampur satu per satu bahan tiap akan meminumnya. Hal itulah yang mendasarinya berinovasi membuat sirup. Diakuinya, sengaja menggarap pasar minuman rempah dalam bentuk sirup. Dengan berbagai kemasan botol 300ml, botol 250ml dan sachet.. Alasannya simpel. "Belum banyak yang membuat," tutur alumni SMA Muhammadiyah 1 Jogja itu.
Dia pun beberapa kali mencoba menggabungkan aneka rempah tersebut seperti yang dipraktekkan sang ibu. Untuk bahan rempah tak kesulitan didapat. Karena banyak dijual di Pasar Beringharjo Jogja. Biar fresh, dia membeli bahan dia hari sekali. Untuk pemrosesan dilakukan di Perum II, Jalan Jeruk D36 RT:006 RW:015,
Kel. Sidoarum, Kap. Godean, Sleman. "Proses pengolahan sekitar 1,5 jam dibantu tetangga," ungkapnya.
Proses pembuatan, jelas dia, tak beda jauh dengan pembuatan sachet. Dimulai dari jahe diparut kemudian dipisah air dan ampas. Untuk non-jahe dimasak terpisah. Jika sudah mateng baru jahe dimasukkan. Semakin lama dipanaskan semakin kental. Untuk produk yang premium kadar air sedikit dan lebih pekat. Jika sampai kering biasanya dibuat menjadi sachet.
Untuk dijadikan sirup secang, kata dia, tinggal dimerahkan dengan kayu manis dan pandan. Sedang untuk dijadikan sirup jahe, hampir sama seperti secang hanya tidak menggunakan kayu manis. Untuk menambah rasa pedas bisa ditambah dengan jahe. Di akhir proses sang ibu diminta mencicipi rasanya. "Memastikan citarasa sesuai dengan racikan ibu," ungkapnya.
Penjualannya sendiri, dia mengaku sudah punya pasar tersendiri. Mulai dari turis lokal dan penyuka rempah. Hingga perorangan, instansi, perhotelan, kafe, restoran dan katering. Termasuk Presiden ketujuh Joko Widodo yang jadi langganan tiap berkunjung ke Jogja. "Sejak 2018 Gedung Agung (Istana Presiden di Jogja) sudah langganan," paparnya.
Andriyanto pun punya angan-angan untuk menjadikan sirup rempah Yang Ti setara dengan bakpia. Menjadi oleh-oleh khas Jogja. Sejak 2023 lalu pun menjadi mitra Pertamina sebagai UKM unggulan. Tak hanya permodalan, dia mengaku Yang Ti juga kerap diajak pameran hingga pelatihan secara daring maupun luring. "Tidak mengecewakan karena banyak manfaatnya," kata dia.
Editor : Heru Pratomo