RADAR JOGJA - Di Kabupaten Magelang, ada kudapan yang jarang atau bahkan belum ditemui di daerah manapun. Biasanya, orang-orang lebih sering memanfaatkan buah-buahan atau sayur-mayur seperti bayam untuk dijadikan keripik. Namun, sejumlah warga di Desa Sumberejo, Ngablak justru memilih sawi.
Alasannya cukup logis. Produksi sawi di Kecamatan Ngablak terbilang melimpah. Tak heran jika warga setempat memiliki inovasi baru dengan menyulap sawi menjadi keripik yang renyah. Selain itu, juga bisa memberdayakan kelompok wanita tani (KWT) agar lebih produktif.
Ketua Gapoktan Desa Sumberejo, Ngablak Siyono menjelaskan, mereka mulai menjajaki bisnis tersebut pada 2022 lalu. Satu tahun pertama, mereka masih meraba-raba. Sembari mengurus sertifikat izin pangan industri rumah tangga (PIRT) dan perizinan label halal.
"Selain melimpah, olahan sawi di daerah lain belum ada. Jadi, kami mulai menginisiasi keripik sawi," ujarnya saat ditemui di Pendopo Lapangan drh Soepardi Mungkid Kamis (20/6).
Ada sekitar 11 orang dari KWT yang bersama-sama mengembangkan usaha tersebut. Agar mereka memiliki penghasilan dan semakin berdaya. Pembuatannya, kata dia, cenderung mudah. Dikatakan sulit apabila belum menemukan komposisi yang pas.
Semula, kemasannya belum bagus seperti sekarang ini. Hanya berupa plastik bening dan diberi label secara manual. Setelah mempertimbangkan banyak hal, terutama dari segi tampilan, akhirnya diganti dengan kemasan yang lebih praktis.
Dia menyebut, ada beberapa varian rasa yang ditawarkan. Antara lain original, balado, BBQ, dan jagung manis. Cita rasa yang dihasilkan mampu membuat penikmat semakin ketagihan untuk terus mencobanya. Apalagi minyak yang dihasilkan dari penggorengan keripik tersebut, sangat minim.
Proses pembuatan keripik sawi ini cukup mudah. Begitu memanen dan memilahnya, tim produksi akan mencuci bersih sawi tersebut. Kemudian ditiriskan sembari ditambah dengan bumbu. Barulah digoreng.
Namun, keripik sawi yang sudah digoreng, tidak langsung dikemas. Tapi ditiriskan terlebih dahulu agar minyak goreng yang menempel pada keripik, bisa hilang. "Kalau langsung dikemas, kadar minyak gorengnya terlalu banyak. Jadi, dimasukkan mesin pengering dan didiamkan selama satu hingga dua hari agar benar-benar tiris," paparnya.
Siyono menjelaskan, keripik sawi yang diberi nama Kraukk!! ini memiliki sejumlah manfaat. Dengan inovasi pembuatan keripik sawi tersebut, menjadi satu alternatif untuk membiasakan diri memakan sayur-mayur. "Kalau olahan (sayur, Red) jadi (seperti keripik, Red), orang-orang mungkin lebih tertarik untuk mencobanya," kata dia.
Saat ini, keripik sawi dengan berat 100 gram tersebut dipasarkan di beberapa toko oleh-oleh serta tempat wisata seperti Ketep Pass dan Telomoyo. Selain itu, juga dipasarkan di luar daerah seperti di Salatiga, Semarang, hingga Jakarta.
Kendati sudah merambah ke toko online, namun dari segi pemasaran belum begitu maksimal. Permintaan pasar juga belum stabil. "Harganya Rp 16 ribu hingga Rp 18 ribu semua varian rasa. Harga itu dari kami. Kalau di toko oleh-oleh atau di daerah lain, mungkin beda," bebernya.
Siyono menambahkan, keripik sawi yang diproduksi bisa tahan hingga empat bulan. Saat ditanya soal omzet per bulan, mampu meraup sekitar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. Setara dengan 500-700 pack keripik. (aya/eno)