RADAR JOGJA - Di Desa Gunungpring, Muntilan, Magelang terdapat olahan bubur yang melegenda. Bubur blendrang, namanya. Blendrang memiliki cita rasa yang khas. Karena dimasak dengan kaldu dari tulang ayam maupun kambing.
Manyak penjual di Desa Gunungpring yang menjajakan bubur tersebut. Satu di antaranya adalah pasangan suami istri bernama Romadlon, 52, dan Sriningsih, 37. Mereka telah berjualan blendrang lebih dari 23 tahun. Mereka membuka gerai kecil di rumahnya. Tepatnya di Dusun Bintaro, Gunungpring, Muntilan.
Bubur blendrang milik Romadlon, memiliki resep turun temurun dari sang nenek. Istrinya merupakan generasi ketiga. "Neneknya pertama kali buat. Istri saya sering bantu, jadinya tahu cara pembuatannya," bebernya, Jumat (31/5).
Dulunya, bubur blendrang ini hanya disajikan sebagai kudapan berbuka puasa saat Ramadan. Bahan bakunya tempe dan tahu. Namun, seiring berjalannya waktu, blendrang semakin dicari oleh para penikmatnya.
Hanya saja, tempe dan tahu dianggap kurang menarik untuk dijadikan olahan. Sehingga muncullah ide untuk menggantinya dengan tulang kambing. Masyarakat pun bisa menerimanya. Tapi, harga tulang kambing saat itu semakin naik. Lalu, dia memanfaatkan tulang ayam. Selain harganya lebih terjangkau, tulang ayam pun mudah dicari.
Blendrang ini memiliki kuah yang cukup kental. Bahan baku lain untuk blendrang terdiri dari sejumlah bumbu. Seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kencur, jahe, penyedap rasa, dan gandum. Bumbu itulah yang membuat blendrang khas Muntilan ini memiliki cita rasa gurih bercampur dengan pedas.
Dalam sehari, dia bisa membuat bubur blendrang tulang kambing sebanyak 1-2,5 kilogram (kg). Sedangkan untuk tulang ayam, dia bisa membuat 6-7 kg. "Alhamdulillah selalu habis," sebut Romadlon.
Pembelinya pun tak hanya masyarakat sekitar Gunungpring. Melainkan luar daerah, seperti Jogja dan sekitarnya. Tak heran jika blendrang buatannya selalu ludes dalam hitungan jam.
Meski warungnya di tengah perkampungan, namun sebagian besar pembeli sudah mengetahui lokasinya. Sehingga dia tidak perlu membuka warung di pinggir jalan. "Memang kalau di pinggir jalan strategis, tapi orang-orang sudah tahu, jadinya tidak perlu buat warung lagi," kata dia.
Itulah yang membuat Romadlon tetap memilih berjualan di rumahnya sembari membuka toko kelontong. Harganya pun cukup terjangkau. Mulai dari Rp 2 ribu hingga Rp 6 ribu. Menyasuaikan porsinya. "Kadang ada anak kecil yang beli Rp 2 ribu, ya kami kasih," jelas Romadlon. (aya/eno)
Editor : Satria Pradika