Andi mengatakan, bahwa kualitas adalah komponen penting yang tidak bisa dinegosiasikan, meskipun ada momentum harga-harga bahan pokok yang melambung tinggi, hal tersebut tidak lantas membuat The Obonk menurunkan kualitas bahan dan olahan masakan mereka.
"Kami selalu jaga kualitas, meski kadang harga bahan naik, kami tetap berikan kualitas terbaik," katanya, Sabtu (17/2).
Andi merinci, dalam prosesnya The Obonk bekerjasama dengan banyak supplier untuk kebutuhan daging hingga beberapa bahan pokok lain seperti sayur hingga beras.
Para supplier tersebut kebanyakan dari wilayah Jogjakarta dan beberapa kota lain di sekitarnya seperti Magelang.
"Kami bekerjasama dengan para supplier itu cukup lama, jadi sudah ada kepercayaan yang terjalin, termasuk kepercayaan pada kualitas barang," tuturnya.
Kendati sudah ada kepercayaan yang dibangun, Andi memaparkan bahwa secara etika bisnis juga masih dijaga secara profesional.
Ia mengaku bisa mengembalikan produk yang dikirim oleh supplier ketika produk tersebut tidak sesuai atau tidak lolos quality control (QC).
"Bisa saja kami kembalikan ketika itu tidak sesuai, jadi kerjasamanya professional, yang dikembalikan sampel yang tidak sesuai saja, bukan semuanya," terangnya.
Andi menyampaikan, umumnya The Obonk membutuhkan setidaknya 40kg daging lokal setiap minggunya untuk kebutuhan menu steak, dikatakannya The Obonk sendiri memiliki beberapa menu yang membutuhkan empat jenis daging berbeda-beda.
"Kami pakai beberapa jenis daging, tapi yang paling banyak itu daging lokal, sebulan mungkin kebutuhannya sekitar 160kg daging," tandasnya.
Untuk pengolahan makanan sendiri, Andi merinci bahwa saat ini tim dapur The Obonk digawangi oleh 6 orang dan 1 orang penanggung jawab dapur.
Ia menuturkan ada serangkaian proses yang dilakukan saat pengolahan sebelum akhirnya disajikan pada pelanggan.
"Quality control jelas kami jaga dan utamakan, itu erat kaitannya dengan kepuasan pelanggan, dan kami tidak ingin mengecewakan mereka," tutupnya.
Editor : Bahana.