HIV Kota Jogja Tembus 1.840 Kasus, 41 Kasus Baru Tercatat hingga Juni

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 19:40 WIB
Ilustrasi HIV.
Ilustrasi HIV.

JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga Juni 2026. Dengan penambahan tersebut, total kumulatif kasus HIV di Kota Jogja mencapai 1.840 kasus sejak pencatatan dimulai pada 2024.

Epidemiolog Kesehatan Ahli Pertama Dinkes Kota Jogja Anandi Iedha Retnani, penambahan kasus baru HIV pada tahun ini merupakan yang terendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebab pada periode yang sama di tahun 2024 tercatat ada 118 kasus baru HIV. Sementara di 2025 terdapat 98 kasus baru.

“Rata-rata penemuan kasus HIV baru berada pada kisaran 80-100 kasus per tahun,” ujar Anandi kepada wartawan, Minggu (27/9/2026).

Baca Juga: Ingatkan Bahaya Warga Bakar Sampah, DLHK: Asap Mengandung Zat Pencemar Berisiko Ganggu Kesehatan

Ia menyatakan, pemerintah kota (pemkot) menargetkan Three Zero pada tahun  2030 mendatang. Meliputi tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS, dan tidak ada diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS.

Oleh karena itu, pihaknya terus memperluas deteksi deteksi HIV dengan menyediakan layanan rapid tes di 18 puskesmas, 14 rumah sakit dan tiga klinik di Kota Jogja. Kemudian puskesmas dan rumah sakit juga telah menyediakan layanan pengobatan, dan perawatan bagi penderita HIV.

Anandi menyatakan, pemkot juga bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) supaya penjangkauan penderita lebih optimal. Upayanya dilakukan dengan nenyediakan pos kesehatan di kantor LSM dan Voluntary Counselling and Testing (VCT) Mobile yang menyediakan pemeriksaan HIV serta sifilis atau infeksi menular seksual (IMS).

Baca Juga: Dua Siklon Ini Bikin DIY Semakin Terik, El Nino Sangat Kuat Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027

“VCT Mobile bisa kami lakukan di kantor LSM. Bisa juga di hotspot, misalnya di karaoke atau kafe-kafe,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja  Endang Sri Rahayu membeberkan pada tahun 2025 lalu pihaknya cukup masif melakukan pencarian kasus baru dengan melakukan tes terhadap populasi rentan dan atas indikasi medis. Berdasarkan hasil identifikasi ada beberapa faktor penyumbang kasus HIV/AIDS.

Pertama karena masih dilakukannya hubungan seksual beresiko dengan berganti-ganti pasangan. Lalu minimnya pemahaman masyarakat terhadap HIV/AIDS. Serta masih ditemukannya penularan HIV dari ibu hamil kepada anaknya.

Baca Juga: 44 SMK di DIY Jalani Revitalisasi dengan APBN Rp 46,9 Miliar, Ditarget Rampung 17 Desember

Endang menyebut, aktivitas berganti-ganti pasangan atau heteroseksual diketahui menjadi penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS di Kota Jogja pada tahun lalu. Prosentasenya sebesar 45 persen. Kemudian penyumbang terbesar kedua berasal dari aktivitas lelaki seks dengan lelaki (LSL) dengan prosentase 25 persen.

“Mayoritas (penderita HIV/AIDS) merupakan usia produktif dengan latar belakang penderita terbanyak berasal kalangan wiraswasta. Sementara pada jenis kelamin paling banyak merupakan laki-laki dengan prosentase 60 persen dan 40 persen perempuan,” terang Endang. (inu)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
41 kasus baru kasus HIV Dinkes Kota Jogja