BANTUL - Pernahkah Anda sedang menikmati lari pagi yang tenang, menjaga ritme kaki tetap stabil, namun tiba-tiba merasa dada berdegup makin kencang? Saat melihat jam tangan pintar, angka denyut jantung terus merambat naik, padahal Anda sama sekali tidak menambah kecepatan.
Sensasi ini sering kali memicu kepanikan kecil: apakah tubuh sedang memberikan sinyal bahaya, ataukah ini respon yang wajar?
Fenomena unik ini dikenal di dunia medis sebagai cardiac drift.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY) sekaligus spesialis jantung, Dr. Gagah Buana Putra, M.Sc., Sp.JP., menegaskan bahwa lonjakan detak jantung secara bertahap saat olahraga berdurasi panjang sebenarnya merupakan penyesuaian alamiah tubuh.
Di balik kayuhan sepeda atau langkah kaki yang berulang, mesin di dalam tubuh kita bekerja keras menghadapi perubahan fisik internal. Seiring bertambahnya menit, suhu tubuh merambat naik dan keringat mengucur deras. Proses pendinginan alami ini lambat laun mengurangi volume cairan dalam darah.
Padahal di saat yang bersamaan, otot-otot kaki dan tangan tetap menagih pasokan oksigen yang sama besarnya. Demi menyiasati berkurangnya volume darah yang dipompa per detik, jantung mengambil langkah cepat: ia menaikkan frekuensi ketukannya agar pasokan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh tetap terjaga tanpa henti.
Baca Juga: Bukan hanya Lari, Ribuan Pelari Akan Padati Jogja Demi Misi Bebas Stunting di Chicken n Egg Run 2026
Sebagai gambaran nyata, seorang pelari yang mempertahankan pace konsisten mungkin mencatat denyut 130 ketukan per menit (bpm) di kilometer awal. Namun memasuki menit ke-40, angka itu bisa merayap naik ke 140 hingga 150 bpm. "Yang tadinya cukup memompa 130 kali per menit, kini harus naik untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Itulah cardiac drift," ungkap Gagah.
Fenomena ini paling sering menghampiri para pegiat olahraga ketahanan (endurance) seperti pelari jarak jauh, pesepeda, atau penggiat maraton. Saat tubuh makin hangat, aliran darah terbagi fokusnya: sebagian besar menuju kulit demi melepas panas, sementara sisanya tetap dipaksa melayani otot yang mulai kelelahan. Dari luar langkah Anda tampak anggun dan konsisten, tetapi di dalam, tubuh sedang menanggung beban yang kian berat.
Meski tergolong respons normal, setiap penggiat olahraga wajib memelihara kepekaan rasa. Ada garis tipis antara adaptasi tubuh dan kondisi kritis. Jika kenaikan detak jantung dibarengi dengan rasa pusing hebat, tubuh lemas lunglai, atau haus yang menyiksa, itu pertanda pertahanan hidrasi Anda mulai jebol dan butuh istirahat sejenak.
Lebih dari itu, jangan pernah mengabaikan sinyal merah yang bersifat ancaman nyata. Rasa nyeri menekan di dada, pingsan mendadak, sesak napas berat, atau sensasi jantung berdebar liar tak terkendali bukanlah cardiac drift biasa. Jika alarm berbahaya ini berbunyi, tindakan terbaik adalah langsung menghentikan latihan dan berkonsultasi dengan tenaga medis.
Kabar baiknya, tubuh manusia adalah mesin peradaptasi yang luar biasa. Melalui latihan terstruktur, kita tidak sedang berusaha menghapus cardiac drift—karena hal itu mustahil—melainkan melatih jantung agar memompa darah secara jauh lebih efisien. Seiring meningkatnya kebugaran, otot dan paru-paru menjadi lebih tangguh, serta kenaikan denyut jantung akan jauh lebih terkendali.
Baca Juga: Kemeriahan Run’N Shine 2026 di UGM Jogja, Kolaborasi Lari, Kuliner, dan Musik
Pada akhirnya, kunci olahraga yang menyehatkan bukanlah memaksakan diri hingga ambang batas kemampuan setiap hari. Konsistensi, kenaikan beban secara bertahap, serta waktu pemulihan (recovery) dan tidur yang cukup adalah pilar utama yang tak boleh terpisahkan. Dengarkan sinyal tubuh Anda, hormati prosesnya, dan biarkan jantung beradaptasi dengan ritmenya sendiri.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja