Lagi Bad Mood, Tiba-Tiba Checkout? Kenali Fenomena Vibe Spending

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:06 WIB
Fenomena vibe spending membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian ketika dipengaruhi suasana hati, seperti bosan, stres, atau ingin memberikan penghargaan kepada diri sendiri.

Kredit: Ilustrasi/AI
Fenomena vibe spending membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian ketika dipengaruhi suasana hati, seperti bosan, stres, atau ingin memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Kredit: Ilustrasi/AI

RADAR JOGJA – Awalnya hanya berniat membuka marketplace untuk melihat-lihat. Tidak ada barang yang benar-benar ingin dibeli. Namun setelah beberapa menit menggulir layar, satu produk mulai masuk keranjang. Disusul produk lain yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Ujung-ujungnya, tombol checkout ditekan dengan satu alasan sederhana: self-reward.

Kebiasaan berbelanja karena dipengaruhi suasana hati tersebut belakangan dikenal dengan istilah vibe spending. Fenomena ini menggambarkan kebiasaan seseorang membeli sesuatu bukan semata karena kebutuhan, tetapi karena dorongan emosional seperti sedang bahagia, bosan, stres, kesepian, atau ingin memberikan hadiah kepada diri sendiri.

Istilah tersebut tengah ramai dibahas setelah muncul dalam pembahasan gaya hidup dan perilaku konsumen. Dalam praktiknya, vibe spending sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama ketika aktivitas belanja semakin mudah dilakukan melalui ponsel.

Saat suasana hati sedang kurang baik, misalnya, membuka aplikasi belanja dapat menjadi bentuk hiburan singkat. Melihat berbagai produk, promo, hingga rekomendasi barang membuat perhatian beralih dari masalah yang sedang dipikirkan.

Baca Juga: Skema Bola Mati Arema Sangat Optimal, Marcos Santos: Kami Tidak Memulai Ini Dari Sekarang

Begitu pula ketika seseorang merasa telah melewati hari yang melelahkan. Membeli makanan favorit, pakaian baru, produk kecantikan, atau barang yang sudah lama diincar bisa dianggap sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri.

Tidak selalu buruk, tetapi kebiasaan tersebut bisa menjadi masalah ketika setiap perubahan emosi selalu diikuti dengan keinginan berbelanja.

Apalagi, kemudahan transaksi digital membuat jarak antara keinginan dan pembelian menjadi semakin pendek. Cukup beberapa kali menekan layar, barang yang sebelumnya hanya dilihat sudah selesai dipesan.

Momentum promo juga dapat memperkuat dorongan tersebut. Awal September misalnya, sejumlah platform digital tengah menawarkan berbagai program belanja menjelang puncak promo 9.9. Kondisi ini membuat konsumen semakin sering melihat potongan harga, rekomendasi produk, hingga berbagai penawaran terbatas.

Baca Juga: Gempa Flores, Karhutla Kalimantan dan Erupsi Anak Krakatau, Indonesia Masih Waspada

Bagi anak muda, situasi tersebut dapat membuat aktivitas scrolling berubah menjadi aktivitas belanja tanpa rencana.

Namun, bukan berarti setiap pembelian karena suasana hati harus dianggap sebagai sesuatu yang salah. Memberikan hadiah kepada diri sendiri tetap bisa dilakukan selama disesuaikan dengan kemampuan finansial.

Yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik pembelian tersebut.

Sebelum menekan tombol checkout, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri. Apakah barang tersebut memang dibutuhkan, atau hanya ingin dibeli karena sedang bosan, stres, atau ingin memperbaiki suasana hati?

Memberikan jeda beberapa jam bahkan hingga keesokan hari juga bisa menjadi cara sederhana. Jika setelah menunggu barang tersebut masih dirasa penting dan sesuai kebutuhan, keputusan membeli bisa dipertimbangkan kembali.

Membuat daftar kebutuhan sebelum membuka marketplace juga dapat membantu agar aktivitas belanja tetap terarah. Dengan begitu, promo dan rekomendasi produk tidak mudah mengubah rencana.

Baca Juga: Warung di Ponjong Gunungkidul Dibobol Maling, Etalase Rokok hingga Uang Raib Senilai Rp 30 Juta

Selain itu, self-reward tidak selalu harus dilakukan dengan mengeluarkan uang. Menonton film, berjalan santai, mendengarkan musik, bertemu teman, atau sekadar beristirahat juga dapat menjadi pilihan.

Pada akhirnya, belanja bukan sesuatu yang harus dihindari. Yang lebih penting adalah memahami kapan keinginan membeli muncul dan apa yang menjadi pemicunya.

Mood boleh berubah, tetapi jangan sampai setiap perubahan mood membuat saldo ikut berubah.

(Maria Margraetha Nirong Gedo) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Check out Awalnya melihat-lihat Akhirnya check out self reward marketplace