Bukan Sekadar Usia, 3 Kebiasaan Modern Ini Disebut Bisa Mempercepat Penuaan Tubuh

Fibrian Putri Heragung • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 19:08 WIB
Bukan Sekadar Usia, 3 Kebiasaan Modern Ini Disebut Bisa Mempercepat Penuaan Tubuh
Bukan Sekadar Usia, 3 Kebiasaan Modern Ini Disebut Bisa Mempercepat Penuaan Tubuh. (AI Image Generator) 

RADAR JOGJA - Perubahan gaya hidup yang semakin cepat ternyata tidak hanya memengaruhi keseharian, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi tubuh. Pola makan, paparan lingkungan, hingga tekanan psikologis disebut dapat memengaruhi kerja sel dan berhubungan dengan proses penuaan biologis.

Pakar kedokteran fungsional asal Pennsylvania, Dr. Will Cole, menjelaskan bahwa tubuh manusia pada dasarnya masih memiliki genetika yang relatif sama seperti ribuan tahun lalu. Namun, lingkungan dan pola kehidupan manusia mengalami perubahan yang sangat besar dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Menurut Cole, perubahan tersebut dapat terlihat dari jenis makanan yang dikonsumsi, paparan berbagai zat dari lingkungan, serta meningkatnya stres dan pengalaman traumatis dalam kehidupan modern.

Ia menjelaskan, berbagai tekanan tersebut berpotensi memengaruhi usia biologis seseorang. Kondisi ini terjadi ketika keadaan tubuh dan sel seseorang terlihat lebih tua atau lebih muda dibandingkan usia kronologisnya.

Cole bahkan menyebut kondisi tersebut dapat ditemukan pada orang yang masih berusia 20 hingga 40 tahun. Menurutnya, seseorang bisa saja memiliki kondisi sel yang menyerupai orang yang jauh lebih tua meskipun secara usia masih tergolong muda.

Baca Juga: Dawet Telasih Bu Dermi, Kesegaran Legendaris yang Tetap Diburu di Pasar 

Ia kemudian menyoroti tiga hal yang dinilai dapat mengganggu komunikasi antarsel. Gangguan tersebut ia gambarkan sebagai cellular noise atau “kebisingan seluler” yang berpotensi memengaruhi kesehatan tubuh.

Pola makan yang kurang sehat

Makanan menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian. Menurut Cole, terlalu sering mengonsumsi makanan yang minim manfaat bagi tubuh, terutama makanan yang dapat memicu peradangan, berpotensi mengganggu kondisi sel.

Tidak hanya jenis makanan, pola waktu makan juga dinilai penting. Kebiasaan makan tanpa jeda yang cukup sepanjang hari disebut dapat membuat tubuh kehilangan kesempatan untuk menjalani proses pencernaan dan beristirahat secara optimal.

Baca Juga: Digelar Tiga Hari di GOR UNY, YOT VI 2026 Jadi Kawah Candradimuka Pembinaan Karateka Usia Dini

Karena itu, menjaga pola makan yang lebih teratur dan memberikan jeda yang cukup bagi tubuh menjadi salah satu hal yang dapat diperhatikan dalam menjaga kesehatan.

Paparan zat dari lingkungan

Faktor berikutnya berasal dari lingkungan sekitar. Manusia saat ini dapat terpapar berbagai bahan kimia yang sebelumnya tidak banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Cole menyoroti paparan seperti pestisida, herbisida, serta sejumlah bahan kimia yang sulit terurai di lingkungan. Selain itu, bakteri, virus, dan paparan jamur juga disebut sebagai faktor yang dapat memengaruhi kondisi tubuh.

Meski demikian, dampak suatu zat terhadap kesehatan tidak selalu sama. Tingkat risikonya dapat dipengaruhi oleh jenis zat, jumlah paparan, serta berapa lama seseorang terpapar.

Kebiasaan sehari-hari juga turut berperan. Paparan cahaya dengan kandungan cahaya biru pada malam hari, misalnya, dapat mengganggu ritme sirkadian pada sebagian orang dan berpengaruh terhadap pola tidur.

Baca Juga: Jembatan Gantung Pongpet Miring Saat Dilintasi Puluhan Orang Usai Peresmian

Sebaliknya, mempertahankan jadwal tidur dan bangun yang konsisten serta memperoleh paparan cahaya alami pada siang hari dapat membantu mendukung kualitas tidur.

Stres, trauma, dan minimnya hubungan sosial

Selain faktor fisik, kondisi mental dan hubungan sosial juga menjadi perhatian. Cole menyebut stres yang berlangsung dalam jangka panjang, pengalaman traumatis yang belum terselesaikan, serta kurangnya hubungan sosial maupun spiritual sebagai faktor yang dapat berkontribusi terhadap “kebisingan seluler”.

Sejumlah penelitian observasional juga menemukan adanya hubungan antara keterlibatan dalam aktivitas keagamaan atau spiritual dengan beberapa indikator kesehatan yang lebih baik. Namun, manfaat tersebut tidak harus berasal dari satu bentuk keyakinan tertentu.

Baca Juga: Laga Perdana BRI Super League Kurang dari Sepekan, PSIM Bidik Start Positif saat Hadapi Persita

Menurut Cole, seseorang dapat memperoleh dukungan serupa melalui komunitas, sistem kepercayaan, hubungan dengan orang lain, maupun kedekatan dengan alam.

Pada akhirnya, berbagai tekanan dalam kehidupan modern dapat memberikan dampak terhadap tubuh meskipun efeknya tidak selalu langsung terlihat. Menjaga kesehatan secara menyeluruh, mulai dari fisik, mental dan emosional, hingga kehidupan sosial dan spiritual, dinilai penting untuk membantu tubuh menghadapi berbagai tekanan tersebut.

Cole menggambarkan kondisi ini sebagai upaya untuk mengurangi epigenetic noise atau “kebisingan epigenetik”. Dengan memberikan tubuh waktu untuk beristirahat, memperhatikan pola hidup, dan mengelola berbagai sumber tekanan, tubuh diharapkan memiliki kesempatan lebih baik untuk menjalankan fungsi dan proses perbaikannya.

( FIBRIAN PUTRI HERAGUNG )

Sumber: Berbagi Sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Penuaan dini dini Kesehatan kulit penuaan